Friday, September 21, 2018

NABI YAHYA ALAIHI-AS-SALAM


Nabi Yahya AS adalah Anak dari Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS dilahirkan saat orang tuanya telah berusia senja, Nabi Yahya AS yang lahir pada tahun 7 SM merupakan anak satu- satunya Nabi Zakaria yang juga merupakan keturunan langsung dari Nabi-Nabi yaitu Nabi Sulaiman AS. Sejak kecil, Nabi Yahya AS sudah diajari oleh ayahnya tentang ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Taurat dan Zabur. Nabi Yahya diangkat Allah SWT menjadi Nabi  dan Rasul pada tahun 27 M. 
Beliau membantu ayahnya dalam berdakwah dengan mengingatkan kaumnya dan para pemimpin Bani Israil yang melanggar hukum Taurat. Ia sangat berani menegakkan kebenaran dan menerapkan hukum agama dengan tegas. Ia juga selalu menganjurkan agar kaumnya yang berdosa segera bertaubat. Pertaubatan ini ditandai dengan dipermandikan atau dibaptiskan di sungai Yordan. Karena itu, Yahya dijuluki al-Ma'madan (Pembaptis). Hingga sekarang, upacara pembaptisan ini masih dilakukan oleh umat Kristiani.

Sebelum kelahiran Yahya, Nabi Zakaria sudah diberitahu tentang putranya yang akan membenarkan Firman Allah SWT mengenai kedatangan Nabi Isa AS : “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya) : “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS. Ali Imran :39). Di kemudian hari Nabi Yahya yang membaptis Nabi Isa AS dan membenarkan risalah atau syariat yang dibawanya. Namun Nabi Yahya tidak sempat ikut membela risalah itu karena tewas dibunuh oleh Raja Herodus.

Nabi Yahya AS hidup pada saat Yerussalem berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi (4 SM - 39 M) dengan Herodus sebagai penguasa setempat. Suatu ketika Raja Herodus berencana menikahi anak tirinya, Herodia. Tapi Yahya mengetahui rencana itu. Maka ia segera mengeluarkan fatwa larangan, karena menurut hukum Taurat, anak tiri haram dinikahi. Tapi Herodia tidak ingin pernikahannya gagal. Maka ia meminta Raja Herodus membunuh Yahya. Raja Herodus segera menangkap Yahya dan memasukkannya ke penjara. Akhirnya Yahya dibunuh oleh Raja Herodus untuk memenuhi permintaan kekasihnya itu.

Di dalam Al-Quran Nabi Yahya AS tidak banyak diceritakan, hanya dijelaskan beliau dikaruniai hikmah dan ilmu semasa kecil. Beliau hormat pada orang tuanya, dan tidak sombong atau pun durhaka. Beliau pintar dan tajam pemikirannya, beribadah siang malam. Di kalangan bani Israil, beliau dikenal sebagai ahli agama dan hafal Taurat.

Kisah Nabi Yahya AS Saat berdialog dengan Iblis

Pada suatu hari, datanglah iblis menghadap Nabi Yahya as dan dia berkata :

§  Iblis : "Wahai Nabi Yahya, aku ingin memberimu nasehat". 

§  Nabi Yahya AS : "Kamu berdusta. Kamu jangan menasehati aku, tetapi beritahukan kepadaku tentang anak cucu Nabi Adam AS”.

§  Iblis : "Anak cucu Adam itu menurut asal ada tiga golongan, yaitu: (1) Golongan yang paling keras terhadap golongan kami, Bila saya menemukan kesempatan untuk menggodanya, maka kesempatan itu tidak bisa saya manfaatkan sehingga kami tidak memperoleh apa-apa dari mereka. (2) Golongan yang kami kuasai, Mereka ini ditangan kami tidak ubahnya seperti bola di tangan para anak-anak kami yang kapan saja bisa dimainkan. Kami puas atas mereka. (3) Golongan orang-orang seperti Anda, Mereka ini oleh Allah SWT dilindungi sehingga saya tidak dapat menembus mereka.

§  Nabi Yahya as : "Kalau begitu, apakah kamu mampu menggoda saya ?"

§  Iblis : "Tidak, tapi hanya sekali saja saya mampu menggoda anda. Yaitu ketika anda menghadapi makanan, lalu anda memakan makanan itu sekenyang-kenyangnya sampai anda tertidur pada waktu itu juga. Saat itu anda tidak melakukan shalat malam seperti pada malam-malam sebelumnya”.

Karena Iblis tidak mampu menggoda Nabi Yahya AS, maka iblis pun pergi untuk kembali nanti. Iblis berfikir, mungkin di kesempatan lain bisa menggoda Nabi Yahya AS. Iblis mendatangi Nabi Yahya AS lagi, dan kali ini iblis tengah memperlihatkan dirinya dengan beberapa barang yang tergantung.
Dan terjadilah dialog lagi dengan mereka.

§  Nabi Yahya AS : "Apakah barang-barang yang tergantung itu, wahai Iblis laknatullah ?" 

§  Iblis : "Ini adalah beberapa syahwat yang saya dapat dari anak Adam”.

§  Nabi Yahya AS : "Apakah aku juga ada (syahwat) ?"

§  Iblis : "Kadang-kadang Anda kebanyakan makan (maksudnya sekali itu saja hingga Beliau tertidur), lalu Anda berat untuk menjalankan shalat dan dzikir kepada Allah SWT."

§  Nabi Yahya AS : "Apakah ada yang lain?"

§  Iblis : "Tidak ada. Wallahi tidak ada." (Ini menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul itu benar-benar dilindungi oleh Allah SWT dari perbuatan dosa).

§  Nabi Yahya AS : "Ketahuilah wahai Iblis, sesungguhnya Allah SWT tidak akan memenuhkan perut saya dari berbagai makanan."

§  Iblis : "Saya rasa demikian. Saya pun juga begitu, saya tidak akan memberi nasehat kepada anak cucu Adam".

NABI ILYAS ALAIHI-AS-SALAAM DAN PRIA BUTA

Pernah terjadi di zaman Nabi Ilyas AS, ketika Nabi Ilyas AS telah melihat seorang pria yang sholeh yang matanya buta dimana dia sedang menangis.  Maka Nabi Ilyas AS bertanya kepadanya: “Mengapakah engkau menangis, wahai saudara ?”. Pria buta tersebut menjawab: “Aku menangis karena aku tidak dapat melihat Nabi Ilyas AS, hamba Allah itu”.

Maka ditegurlah ia oleh Nabi Ilyas AS yang berkata: “Hentikanlah tangisanmu, wahai lelaki, karena engkau dengan tangisanmu telah berbuat dosa!”. Pria buta itu berkata: “Wahai fulan, katakanlah kepadaku, apakah melihat seorang Nabi Allah yang telah membangkitkan orang yang mati dan menurunkan api dari langit itu suatu dosa?”

Nabi Ilyas AS menjawab: “Engkau tidak berkata benar, wahai saudara, karena Ilyas sama sekali tidak bisa melakukan sesuatu apa pun seperti yang engkau ungkapkan tadi. Karena ia seorang yang seperti engkau juga, bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak mampu untuk menciptakan seekor lalat pun!”


Pria buta menjawab: “Engkau mengatakan demikian, wahai lelaki, karena barangkali engkau pernah ditegur oleh Ilyas atas sebagian dari dosa-dosamu, karena itu engkau membencinya!”


Nabi Ilyas AS menjawab: “Semoga engkau telah berkata benar, karena apabila aku membenci Ilyas, wahai saudara, niscaya aku akan semakin mencintai Allah, dan setiap kali aku semakin benci kepada Ilyas, maka aku semakin cinta kepada Allah.”


Kemudian marahlah si pria buta tersebut dengan sangatnya, dia berkata: “Demi Allah, engkau seorang yang durhaka !, Dapatkah seseorang mencintai Allah tetapi membenci Nabi-Nya ? Pergilah kau dari sini, karena aku tidak sudi lagi mendengarkan omonganmu !”


Nabi Ilyas AS menjawab: “Wahai saudaraku, sesungguhnya kini engkau telah melihat dengan fikiranmu, betapa besarnya bahaya penglihatan badan itu, karena engkau menginginkan cahaya untuk melihat Ilyas sementara engkau membenci Ilyas dengan jiwamu”.


Si pria buta itu menjawab: “Hai kau, enyahlah kau dari sini!, karena engkau ini seorang syaitan yang menghendaki agar aku berdosa kepada Nabi Ilyas AS, hamba Allah itu !”.

Kemudian Nabi Ilyas AS menarik nafas, kemudian beliau berkata dengan air mata yang berlinang: “Sesungguhnya engkau telah berucap benar, wahai saudara, karena tubuhku ini yang engkau ingin melihatnya telah memisahkanku dari Allah”.


Pria buta tersebut menjawab: “Sungguh aku tidak ingin melihatmu, bahkan andai aku memiliki dua mata pun, akan kupejamkan keduanya agar tidak melihatmu !”.


Ketika itu Nabi Ilyas AS mengatakan: “Ketahuilah, wahai saudaraku, bahwa sebenarnya aku ini adalah Ilyas !”. Si pria buta itu menjawab: “Sungguh engkau telah berkata tidak benar (bohong)!“. Ketika itu murid-murid Nabi Ilyas AS berkata kepadanya: “Wahai saudara, sungguh dia ini adalah Nabi Allah, Ilyas sendiri. Dia ini bukan orang lain dan benar-benar Nabi Ilyas AS”.

Maka si pria buta tersebut berkata: “Jika dia betul-betul Nabi Ilyas, maka hendaklah dia terangkan kepadaku, dari keturunan siapakah aku ini ? Dan, bagaimana sampai aku bisa menjadi buta ?”. Nabi Ilyas AS menjawab: “Engkau adalah dari keturunan Lawi (Lawi adalah salah seorang dari putra Nabiyullah, Nabi Ya’qub AS). Dan tentang butamu, ketika engkau berada di dalam rumah ibadah, yaitu dekat dengan Allah Yang Maha Qudus, engkau telah memandang kepada seorang perempuan dengan syahwat, maka Rabb kita telah menghilangkan penglihatanmu!”.

Maka menangislah si pria buta itu dan berkata: “Ampunilah aku, yaa Nabiyullah yang qudus (suci), karena aku telah bersalah dalam pembicaraan tadi, dan andaikata aku dapat melihatmu niscaya aku tidak berbuat kesalahan seperti tadi !”.

Nabi Ilyas AS pun menjawab: “Semoga Rabb (Tuhan) kita mengampuni engkau, wahai saudara. Karena aku mengetahui bahwa engkau telah berucap benar tentang apa yang menyangkut diriku. Oleh karena itu, semakin aku membenci diriku maka semakin pula aku bertambah kecintaan kepada Allah. Dan jika engkau melihat aku, niscaya padamlah keinginanmu yang tidak diridhai Allah itu. Karena Ilyas bukanlah yang menciptakanmu, tetapi Allah-lah Dzat Yang menciptakanmu.”

Kemudian Nabi Ilyas AS menyambung uraiannya sambil menangis: “Sungguh aku ini adalah seorang syaitan terhadap yang menyangkut dirimu, karena aku telah memalingkan engkau dari Pencipta-mu. Jika demikian, maka menangislah, wahai saudara, karena tiada cahaya bagimu yang memperlihatkan kepada engkau antara Kebenaran dengan kebathilan. Andaikan ada cahaya itu padamu, niscaya engkau tidak akan meremehkan ajaranku. Dari itu kukatakan kepadamu, bahwa banyak yang ingin melihatku, dan mereka datang dari tempat yang jauh untuk sekedar melihatku, sementara mereka melalaikan nasihat-nasihatku. Karenanya, demi keselamatan mereka, lebih baik mereka tidak mempunyai mata. Karena, barangsiapa yang merasa senang dengan suatu makhluk, apapun itu, sementara dia tidak bersungguh-sungguh dalam mencari keridhoan Allah, maka dia adalah orang yang telah membuat berhala dalam hatinya dan telah meninggalkan Allah”.

Kisah Nabi Ilyas AS Dengan Pria Buta ini diriwayatkan di dalam Kitab Injil Barnabas. Kisah Nabi Ilyas AS ini diriwayatkan oleh seorang Nabi yang bergelar Ruhullah, yakni Nabi ‘Isa Al-Masih AS setelah melalui waktu berabad-abad. Ketika selesai menceritakan kisah ini, kemudian Nabiyullah yang mulia, Nabi ‘Isa AS sambil bernafas panjang dan berkata: “Sudahkah kalian memahami segala apa yang dikatakan Ilyas ?”. Para murid Nabi ‘Isa AS menjawab: “Sungguh kami telah memahami, dan kami heran setelah mengetahui bahwa di bumi ini tiada yang tidak menyembah berhala kecuali sedikit saja”.

NABI ILYASA' ALAIHI-AS-SALAAM


Nabi Ilyasa AS adalah anak angkat atau pengikut Nabi Ilyas AS yang merupakan utusan Allah SWT pada kaumnya yaitu kaum Ba’l. Nabi Ilyasa AS merupakan anak kandung dari Akhtub bin ‘Ajuz. Beliau lalu diangkat oleh Allah SWT menjadi Nabi dan Rasul sebagai pengganti Nabi Ilyas AS sebagaimana telah terkandung dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 86 yang berbunyi :

“Adapun Ismail, Ilyasa, Yunus dan Luth, semuanya itu telah Kami berikan kepadanya kelebihan derajatnya di atas umat (di masanya)”. (QS. Al-An’am : 86).

Pada masa Nabi Ilyasa AS, rakyat atau umatnya hidup aman dan makmur karena mereka selalu patuh kepada perintah dan ajaran Nabi Ilyasa AS. Kemudian setelah Nabi Ilyasa AS meninggal dunia, umat atau kaum Bani lsrail meninggalkan hukum Taurat. Mereka mengambil jalan yang salah, yang makin hari makin bertambah kekufuran, kekafiran dan kedurhakaannya kepada Allah SWT, sehingga Allah SWT melenyapkan nikmat dan kesenangan dunia dari mereka.

Dalam melaksanakan dakwahnya Nabi Ilyasa AS selalu berpegang teguh pada ajaran Allah SWT yang disyariatkan oleh Nabi Ilyas AS di dalam kitab suci Al-Qur’an tidak teruraikan secara jelas  tentang kisah Nabi Ilyasa AS. Hanya dijelaskan dalam surat Shaad ayat 48 berbunyi : ”Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, Dzulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik”. (QS. Shaad : 48)

Nabi Ilyasa AS termasuk hamba Allah yang terbaik. Ada yang mengatakan Nabi inilah yang disebut dalam kitab suci Taurat. Di antara mukjizatnya adalah menghidupkan kembali orang yang telah mati, hanya Allah yang tahu tentang kisah Beliau. 

Nabi Ilyasa AS adalah Nabi dan Rasul dari kalangan Bani Israil dari garis keturunan yang sama dengan Nabi Musa AS, Nabi Harun AS serta Nabi Ilyas AS. Nama Nabi Ilyasa AS disebut dalam kisah Nabi Ilyas AS, saat Beliau dikejar-kejar kaumnya dan bersembunyi di rumah Ilyasa. Maka ada kemungkinan Nabi Ilyasa AS juga tinggal di sekitar daerah lembah sungai Yordania. Ketika Nabi Ilyas bersembunyi di rumahnya, Ilyasa masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita penyakit dan Nabi Ilyas AS membantu untuk menyembuhkan penyakitnya. Setelah ia sembuh, Nabi Ilyasa AS pun menjadi sahabat Ilyas yang selalu mengikutinya untuk menyeru ke jalan yang benar. Ilyasa AS melanjutkan tugas dari Nabi Ilyas. Nabi Ilyasa AS kemudian mendapati bahwa manusia ternyata begitu mudah kembali ke jalan sesat. Itu terjadi tak lama setelah Nabi Ilyas pergi. Padahal masyarakat lembah sungai Yordania itu sempat mengikuti seruan Nabi Ilyas agar meninggalkan pemujaannya pada berhala. Pada kalangan itulah Ilyasa AS tak pernah lelah dalam menyeru kaumnya ke jalan yang benar. Dikisahkan bahwa mereka tetap tak mau mendengar seruan Ilyasa, dan mereka kembali menanggung bencana kekeringan yang luar biasa.

Nabi Ilyasa AS adalah anak angkat Nabi Ilyas AS. Kedua-duanya itu adalah Nabi dan Rasul Allah.

Pada masa hidup Nabi lIyasa AS, umat Bani Israil hidup aman dan makmur, karena mereka adalah orang-orang yang taat kepada ajaran Allah SWT yang disampaikan oleh Beliau.

Setelah Nabi lIyasa AS wafat, umatnya kembali menjadi orang-orang yang durhaka kepada Allah. Allah melenyapkan segala nikmat dan kesenangan hidup mereka dan akhirnya mereka mendapat kesengsaraan. Selanjutnya pada zaman itu lahirlah Nabi Yunus AS.

Tiap-tiap umat yang durhaka di muka bumi ini, didatangkanlah oleh Allah siksaan kepada mereka dan Allah mengganti lagi dengan umat yang baru.

Demikian kisah dari Nabi Ilyasa AS semoga bermanfaat.

 

MALIK BIN DINAR AL SAMI'

Malik bin Dinar al-Sami’ Putera seorang budak berbangssa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid Hasan al-Bashri. Ia terhitung sebagai ahli Hadits Shahih dan merawikan Hadits dari tokoh-tokoh kepercayan di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu Sirin

Malik bin Dinar adalah seorang Kaligrafi al-Qur’an yang terkenal. Ia meninggal sekitar tahun 130 H/748 M.

 
MENGAPA IA DINAMAKAN MALIK BIN DINAR DAN BAGAIMANA IA SAMPAI BERTAUBAT

Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang erdeka. Orang-orang mengishkan bahwa pada suatu ketika Malik bin Dinar menumpang sebuah perahu.

Setelah berada di tengah lautan, awak-awak perahu meminta : “Bayar lah ongkos perjalananmu!.”

“Aku tak mempunyai uang.” Jawab Malik.

Awak-awak perahu memukulnya hingga ia pingsan. Ketika Malik siuman, mereka meminta lagi :

”Bayarlah ongkos perjalananmu!.”

“Aku tidak mempunyai uang,” jawab Malik sekali lagi, dan untuk kedua kalinya mereka memukulnya hingga pingsan.

Ketika Malik siuman kembali maka untuk ketiga kalinya mereka mendesak.

“Bayarlah ongkos perjalananmu!.”

“Aku tidak mempunyai uang.”

“Marilah kita pegang kedua kakinya dan kita lemparkan dia ke laut,” pelaut-pelaut tersebut berseru.

Saat itu juga semua ikan di laut mendongakkan kepala meraka ke permukaan air dan masing-masing membawa dua keping dinar emas di mulutnya. Malik menjulurkan tangan, dari mulut seekor ikan diambilnya dua dinar dn uang itu diberikannya kepada awak-awak perahu, Melihat kejadian ini pelaut-pelaut tersebut segera berlutut. Dengan berjalan di atas air, Malik kemudian meninggalkan perahu tersbut. Inilah penyebab mengapa ia dinamakan Malik bin Dinar.

Tentang pertaubatan Malik bin Dinar, kisahnya adalah sebagai berikut. Ia adalah seorang lelaki yang sangat tampan, gemar bersenang-senang dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Malik tinggal di Damaskus di mana golongan Mu’amiyah telah membangun sebuha masjid yang besar dan mewah. Malik ingin sekali diangkat sebagai pengurus masjid tersebut. Maka pergilah ia ke masjid itu. Di pojok ruangan masjid itu dibentangkannya sajadahnya dan di situlah ia selama setahun terus menerus melakukan ibadah sambil berharap agar setiap orang akan melihatnya sedang melakukan shalat.“alangkah munafiknya engkau ini,” ia selalu berkata kepda dirinya sendiri.

Setahun telah berlalu. Apabila hari telah malam. Malik keluar dari masjid itu dan pergi bersenang-senang.

Pada suatu malam ketika ia asedang menikmati musik di kala semua teman-temannya telah tertidur, tiba-tiba dari kecapi yang sedang dimainkannya terdengar sebuah suara : “Malik, mengapakah engkau belum juga bertaubat?” Mendengar kata-kata yang ssangat menggetarkan hati ini, Malik segeralmelemparkan kecapinya dan berlari ke masjid.

“Selama setahun penuh akau telah menyembah Allah secara munafiq,” ia berkata kepada dirinya sendiri. “Bukankah lebih baik jika aku menyembah Allah dengan sepenuh hati? Aku malu. Apakah yag harus ku lakukan? Seandainya orang-orang hendak mengangkatku sebagai pengurus masjid, aku tidak akan mau menerimanya.” Ia bertekad dan berkhusyuk kepada Allah. Pada malam itulah uantuk pertama kalinya shalat dengan sepenuh keikhlasan.

Keesokan harinya, seperti biasa, orang-orang berkumpul di depan masjid.

“Hai, lihatlah dinding masjid telah retak-retak,” mereka berseru. “Kita harus mengangkat seorang pengawas untuk memperbaiki masjid ini.” Maka mereka bersepakat bahwa yang paling tepat menjadi pengawa masjid itu adalah Malik. Segera mereka mendatangi Malik yang ketika itu sedang shalat. Dengan sabar mereka menunggu Malik menyelesaikan shalat-nya.

“Kami datang untuk memintamu agar sudi menerimma pengangkatan kami ini,” mereka berkata.

"Ya Allah,” seru Malik, “Setahun penuh aku menyembah-Mu seara munafik dan tak seorang pun yang memandang diriku. Kini setelah diberikan jiwaku kepada-Mu dan bertekad bahwa aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku, Engaku menyuruh dua puluh orang menghadapku untuk mengalungkan tugas tersebu ke leherku. Demi kebesaran-Mu, aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku ini.”

Malik berlari meninggalkan masjid itu, kemudian menyibukkan diri beribadah kepada Allah, dan menjalani hidup prihatin serta penuh ddisiplin. Ia menjadi seorang yang terhormat dan saleh. Ketika seorang hartawan kota Bashrah meninggal dunia dan ia meninggalkan seorang puteri yang cantik, si puteri mendatangi Tsabit al-Bunani untuk memohon pertolongan.

“Aku ingin menjadi istri Malik,” katanya, “sehingga ia dapat menolongku di dalam mematuhi perintah-perintah Allah.”

Keinginan dari dara ini disampaikan Tsabit kepada Malik.

“Aku telah menjatuhkan thalaq kepada dunia,” jawab Malik.

“Wanita itu adalah milik dunia yang telah ku thalaq, karena itu aku tidak adapt menikahinya.”
 

MALIK DAN TETANGGANYA YANG UGAL-UGALAN

Ada seorang pemuda tetangga Malik, tingkah lakunya sangat berandal dan mengganggu ketentraman. Malik sering terganggu oleh tingkah laku si pemuda berandal ini, namun dengan sabar ia menunggu agar ada orang lain yang tampil untuk menegur si pemuda tersebut. Tetapi orang-orang menghadap Malik dengan keluhan-keluhan mereka terhadap si pemuda. Maka pergilah Malik mendatangi pemuda itu dan meminta agar ia merubah tingkah lakunya.

Dengan bandel dan seenaknya sei pemuda menjawab : “Aku adalah kesayangan sultan dan tidak seorang pun dapat melarang atau mencegahku untuk berbuat sekehendak hatiku.”

“Aku akan mengadu kepada sultan,” Malik mengancam.

“Sultan tidak akan mencela diriku,” jawab di pemuda. “Apa pun yang ku lakukan, sultan akan menyukainya.”

“Baiklah, jika sultan tidak dapat berbuat apa-apa,” Malik meneruskan ancamannya,

“aku akan mengadu kepada Yang Maha Pengasih,” sambil menunjuk ke atas.“Allah?”, jawab si pemuda. “Ia terlampau Pengasih untuk menghukum diri ku ini.”

Jawaban ini membuat Malik bungkam, tak dapat mengatakan apa-apa. Si pemuda ditinggalkannya. Beberapa hari berlalu dan tingkah si pemuda benar-benar telah melampaui batas. Sekali lagi Malik pergi untuk menegus si pemuda, tetapi di tengah perjalanan Malik mendengar seruan yang ditujukan kepadanya : “Jangan engkau sentuh sahabat-Ku itu!.”

Masih dalam keadaan terkejut dan gemetar Malik menjumpai si pemuda.

Melihat kedatangan Malik, si pemuda menyentak : “Apa pulakah yang telah terjadi sehingga engkau datan ke sini untuk ke dua kalinya?”

Malik menjawab : “Kali ini aku datang bukan untuk mencela tingkah lakumu. Aku datang semata-mata untuk menyampaikan kepadamu bahwa aku teah mendengar seruan yang mengatakan .....”

Si pemuda berseru : “Wahi! Kalau begitu halnya, maka gedung ku ini akan kujadikan sebagai tempat untuk beribadah kepada-Nya. Aku tidak perduli lagi dengan semua harta kekayaan ku ini.”

Setelah berkata demikian ia pun pergi dan meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan memulai pengembaraan di atas dunia ini.

Malik mengisahkan bahwa beberapa lama kemudian di kota Mekkah ia bersua dengan pemuda tersebut dalam keadaan terlunta-lunta menjelang akhir hayatnya.

“Ia adalah sahabatku” si pemuda berkata dengan terengah-engah. “Aku akan menemui sahabatku.” Setelah berrkata demikian ia lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

 
MALIK DAN HIDUP BERPANTANGNYA

Telah bertahun-tahun bibir malik tidak dilewati makanan yang manis maupun yang asam. Setiap malam ia pergi ke tukang roti dan membeli dua potong roti untuk membuka puasanya. Kadan-kadang roti yang dibelinya itu masih terasa hangat; dan ini menghibur hatinya dan dianggapnya sebagai perangssang selera.

Pada suatu hari Malik jatuh sakit dan ia sangat ingin memakan daging. Sepuluh hari lamanya keinginan itu dapat ditndasnya. Swaktu ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, maka pergilah ia ke toko makanan untuk membeli dua tiga potong kaki domba dan menyembunyikan kaki domba tersebut di lengan bajunya. 

Si pemilik toko menyuruh seorang pelayannya membuntuti Malik untuk menyelidiki apa yang hendak dilakukannya. Tidak berapa lama kemudian si pelayan kembali dengan air mata berrlinang. Si pelayan memberikan laporannya :  “Dari sini ia pergi ke sebua tepat yang sepi. Di tempat itu dikeluarkannya kaki-kai domba itu, diciumnya dan ia berkata kepada dirinya sendiri. “Lebih dari pada ini bukanlah hakmu.” Kemudian diberikannya roti dan kaki-kai domba terebut kepada seorang pengemis. Kemudian ia berkata pula kepada dirinya sendiri : “Wahai jasmani yang lemah, jangan kau sangka bahwa aku menyakitimu karena benci kepadamu. Hal ini ku lakukan agar pada hari Berbangkit nanti, engkau tidak dibakar di dlam api neraka. Bersabarlah beberapa hari lagi, karena pada saat itu godaan ini mungkin terlah berhenti dan engka akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi.”

Pada suatu ketika Malik bin Dinar berkata : “Aku tidak mengerti apakah maksudnya ucapan : “bila seseorang tidak memakan daging  selama empat puluh hari maka kecerdasan akalnya akan berkurang! Aku sendiri tidak pernah makan daging selama dua puluh tahun, tetapi kian lama kecerdasan akalku makin bertambah juga.”

Selama empat puluh tahun Malik tinggal di kota Bashrah dan selama itu pula ia tidak pernah memakan buah korma yang segar. Apabila musim korma tiba, ia berkata : Wahai penduduk kota Bashrah,  saksikanlah betapa perutku tidak menjadi kempis karena tidak memakan buah korma dan betapa perut kalian tidak gembung karena setiap hari memakan buah korma.”

Namun setelah empat puluh tahun lamanya, batinnya diserang kegelisahan. Betapapun usahanya namun keinginannya untuk memakan buah korma segar tidak dapat ditindasnya lagi. Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, keinginan tersebut kian menjadi-jadi walaupun tak pernah di kabulkannya, dan Malik akhirnya tak berdaya untuk menolak desakan nafsu itu.

“aku tidak mau memakan buah korma,” ia menyangkal keinginannya sendiri.” Lebih baik aku di bunuh atau mati.”

Malam itu terdengarlah suara yang berrkata : “Engkau harus memakan buah korma. Bebaskan jasmanimu dari kungkungan,”

Mendengar suara ini jasmaninya yang merasa memperoleh kesempatan itu mulai menjerit-jerit.

“Jika engkau menginginkan buah kurma,” Malik menyentak, “Berpuasalah terus menerus selama satu minggu dan shlat-lah sepanjang malam, setelah itu barulah akan kuberikan buah kurma kepada mu.”

Ucapan ini membuat jasmaninya senang. Dan seminggu penuh ia shalat sepanjang malam dan berpuasa setiap hari. Setelah itu ia pergi ke pasar, membeli beberapa buah korma, kemudian pergi ke masjid untuk memakan buah korma tersebut di atas.

Tetapi dari loteng sebuah rumah, seorang bocah berseru : “Ayah! Seorang Yahudi membeli korma dan hendak memakannya di dalam masjid.”

“Apa pula ayng hendak dilakukan Yahudi itu di dalam masjid?” si ayah menggerutu dan begegas untuk melihat siapakah Yahudi yang dimaksud anaknya itu. Tetapi begitu melihat Malik, ia lantas berlutut.

‘Apakah artinya kata-kata yang diucapkan anak itu?” Malik mendesak.

“Maafkan lah ia guru,” si ayah memohon, “Ia masih anak-anak dan tidak mengerti. Di sekitar ini banyak orang-orang Yahudi. Kami selalu berpuasa dan anak-anak kami menyaksikan beberapa orang-orang Yahudi makan di siang hari. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa setiap orang yang makan di siang hari adalah seorang Yahudi. Apa-apa yang telah diucapkannya, adalah karena kebodohannya. Maafkan lah dia.”

Mendengar penjelasan tersebut Malik sangat mmenyesal. Ia menyadari bahwa anak itu telah di dorong Allah untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Ya Allah,” seru Malik, “sebuah korma pun belum sempat ku makan dan Engkau menyebutku Yahudi melalui lidah seorrang anak yang tak berdosa. Seandainya korma-korma ini sempat termakan oleh ku niscaya Engkau akan menyatakan diriku sebagai seorang kafir. Demi kebesaran-Mu aku bersumpah tidak akan memakan buah korma untuk selama-lamanya. 

NABI IBRAHIM DAN NABI ISMAIL ALAIHIS-AS-SALAAM

Nabi Ibrahim Alaihi-as-Salaam
 
Cerita ini dimulai ketika Nabi Ibrahim as yang telah berhijrah meninggalkan Mesir, ia bersama dengan istrinya yang bernama Siti Sarah, dan dayangnya yang bernama Siti Hajar ke Palestina. Ia juga membawa pindah semua binatang ternaknya, dan seluruh harta miliknya yang diperoleh dari hasil usaha perdagangan di Mesir.
 
Al-Bukhari meriwayatkan dari ibunu Abbas ra berkata : Pertama-tama yang menggunakan stegi (setagen) adalah Siti Hajar, ibu Nabi Ismail yang bertujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama menikah dengan Nabi Ibrahim as tetapi belum juga mengandung, tetapi walau bagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahasia yang disembunyikan itu dengan lahirnya Nabi Ismail as. Tentunya sewajarnya seorang istri, Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagi seorang dayang diberikan kepada Nabi Ibrahim as. Mulai saat itu Siti Sarah merasa bahwa suaminya lebih sering dekat kepada Siti Hajar, karena ia senang dengan hadirnya Ismail. Tentu saja ini menjadi penyebab keretakan rumah tangga mereka Nabi Ibrahim as, Siti Sarah hatinya tidak kuat melihat suaminya lebih dekat kepada Siti Hajar, sehingga ia meminta Nabi Ibrahim agar Siti Hajar dijauhkan dan berpindah tempat.
 
Kemudian Allah yang maha esa menurunkan wahyu kepada Ibrahim supaya keinginan istrinya tersebut dipenuhinya. Lalu berangkatlah Nabi Ismail as bersama Siti Hajar dan anaknya yang masih kecil sekali, yaitu Ismail pergi ke tempat yang belum diketahui tujuannya, dan juga mau dititipkan kemana anak dan istrinya tersebut.
 
Nabi Ibrahim bersama anak dan istrinya pergi dengan menaiki unta ke tempat yang belum jelas tujuannya, ia hanya berserah diri kepada Allah, Tuhan yang ia yakini akan menuntunnya kemana arah langkahnya. Unta yang ditunggangi tiga hamba Allah itu terus berjalan sampai akhirnya keluar dari kota, memasuki lautan pasir dan padang yang terbuka. Terik matahari begitu pedih menyengat tubuh dihiasi dengan angin yang kencang dengan debu-debu pasir yang bertebaran.
 
Cerita Nabi Ismail dan Siti Hajar
 
Akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya tiba di suatu tempat setelah berminggu-minggu dalam perjalanan jauh. Ia tiba dikota suci yang disebut Makkah, yang nantinya ka’bah akan didirikan di kota itu, yang akan menjadi kiblat manusia di seluruh dunia. Unta Nabi Ibrahim berhenti mengakhiri perjalanan di tempat dimana Masjidil Haram dibangun saat ini. Di tempat itulah Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar bersama dengan Ismail putranya.  Mereka ditinggal hanya dibekali dengan serantang bekal makanan dan minuman, sementara itu keadaan di sekitarnya masih belum ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada air yang mengalir, batu dan pasir kering lah yang ada saat itu.
 
 
NABI ISMAIL
 
Siti Hajar begitu cemas dan sedih ketika Nabi Ibrahim akan meninggalkannya seorang diri bersama anaknya yang masih kecil, di tempat yang begitu sunyi senyap, tidak ada orang sama sekali, kecuali hanya pasir dan batu. Seraya merintih dan menangis, ia memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim as sambil memohon belas kasihannya, meminta agar ia tidak ditinggalkan seorang diri di tempat yang begitu hampa, tdak ada seorang manusia sama sekali, tidak ada binatang, tidak ada pohon dan air mengalir pun juga tidak terlihat di tempat itu. Sementara itu ia masih bertanggung-jawab untuk mengasuh anak kecil yang masih menyusu kepadanya. Mendengar keluh kesah Siti Hajar, tentunya Nabi Ibrahim as merasa tidak tega untuk meninggalkanya ia sendiri bersama putranya yang ia sayangi tersebut di tempat yang sepi. Namun ia juga sadar bahwa apa yang dilakukannya merupakan keinginan dan perintah Allah yang maha pencipta, yang tentunya mengandung hikmah yang belum diketahuinya dan ia sadar bahwa Allah yang maha kuasa akan melindungi putra dan Siti Hajar di tempat sepi tersebut dari kesukaran dan penderitaaan.
 
Nabi Ibrahim as pun berkata kepada Siti Hajar : ”Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan Dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekaipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu berdua tanpa perlindunga-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamnya. In-syaa-Allah”
 
Mendengar rangkaian kata dari Nabi Ibrahim itu, Siti Hajar segera melepaskan genggamannya dari baju Nabi Ibrahim as dan dilepaskannya beliau menunggang untanya untuk kembali ke Palestina dengan iringan air mata yang bercurah membasahi tubuh Nabi Ismail as yang sedang menyusu.
Sementara itu Nabi Ibrahim juga tidak dapat menahan air mata ketika ia turun dari dataran tinggi meningalkan Mekah menuju kembali ke Palestina, tempat dimana istri pertamanya, Siti Sarah dengan punya keduanya yaitu Nabi Ishak as sedang menunggu. Selama dalam perjalanan, Nabi Ibrahim tidak henti-hentinya memohon perlindungan, rahmat dan barokah serta karunia dan rezeki bagi putra dan Siti Hajar yang ditinggalkannya di Mekah yang masih sepi dan asing itu. Doa Nabi Ibrahim kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :
 
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”
Sejak Nabi Ibrahim pergi, tinggallah Siti Hajar dan Ismail di tempat yang sunyi dan jauh dari peradapan itu. Ia harus bisa menerima nasib yang oleh Allah telah ditakdirkan kepadanya dengan kesabaran dan keyakinan penuh bahwa Allah akan melingunginya. Sementara itu bekal dan makanan yang dibawah dalam perjalan pada akhirnya habis juga setelah dimakan beberapa hari sejak ditinggal oleh Nabi Ibrahim as. Dimulailah beratnya beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan suaminya. Ditambah lagi ia masih punya tangggung jawab menyusui Ismail, sedangkan susunya semakin lama semakin mengering karena kekurangan makanan.  Sehingga anaknya pu menangis tak henti hentinya karena tidak bisa menum air susu dengan puas dari Siti Hajar. Ibunya pun menjadi bingung, panis dan cemas mendengar anak yang disayanginya menangis menyayat hati. Siti hajar menoleh ke kanan dan ke kiri, berlaki ke kanan ke sana kesini untuk mencari sesuap makan atau seteguk air yang bisa meringankan kelaparan dan meredakan tangisan anaknya, namun usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil.
 
Lalu Siti Hajar pergi ke bukti safa, ia berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bisa menolongnya, namuan hanya batu dan pasir yang ditemuinya di sana, lalu dari bukit safa itu ia melihat bayangan air yang mengalir di atas bukit marwah, kemudian berlarilah ia ke bukti marwah, namun setelah sampai di sana yang dikiranya air ternyata hanya bayangan atau fatamorgana belaka. Lalu ia mendengar seolah-olah ada suara yang memanggilnya dari bukti safa, pergilah ia ke bukit safa, namun setelah sampai di bukit safa ia tidak menjupai apa-apa.
 
 
Cerita Asal usul air zamzam
 
Siti Hajar memiliki keinginan yang kuat untuk tetap hidup bersama putra yang disayanginya, Siti Hajar pun berlari mondari-mandir sebanyak tujuh kali antara bukit safa dan marwah, yang pada akhirnya ia duduk termenung, kepalanya merasa pusing dan hampir saja ia putus asa.
Diriwayatkan bahwa saat itu ibu dari Ismail ini berada alam keadaan yang tidak berdaya dan hampir putus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya datanglah malaikat Jibril kepadanya, lalu malaikat Jibril itu bertanya kepada Siti Hajar : “siapakah sebenarnya engkau ini?” Kemudian Siti Hajar menjawab : “Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jibril bertanya lagi :” Kepada siapa engkau dititipkan di sini?”, Siti hajar menjawab : “Hanya kepada Allah.
 
Lalu malaikat Jibril berkata lagi : “Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat yang maha pemurah dan maha pengasih, yang akan melindungimu, mencukupkan keperluan hidupmu dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya”.
 
Setelah percakapan itu, diajaklah Siti Hajar pergi ke suatu tempat mengikutinya dimana malaikat Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di atas tanah dan atas izin Allah segeralah keluar dari bekas telapak kaki itu air yang begitu jernih, Itu merupakan mata air zam-zam yang sampai saat ini dianggap keramat oleh jemaah haji. Mereka rela berdesak-desakan mengelilinginya untuk mendapatkan setitik atau seteguk air. Karena sejarahnya mata air itu dengan nama “Injakan Jibril”.
 
Dalam kesejap air bekas injakan kaki Jibril tersebut melimpah kemana-mana, kemudian malaikat Jibril berkata : “zamzam!”, yang artinya “berkumpullah:. Kemudian air itu berkumpul dan sampai sekarang air itu diberi nama zam-zam. Kemudian malaikat Jibril berkata lagi : “Hai Siti Hajar janganlah engkau takut akan kehausan di sini, karena sesungguhnya Allah menjadikan air ini untuk minuman orang-orang yang ada di dunia ini. Dan air ini akan terus mengalir dan tidak akan berhenti, dan nanti Ibrahim akan kembali juga ke di sini untuk mendirikan ka’bah”
 
Melihat air yang deras itu  Siti Hajar begitu gembira dan lega. Lalu segeralah ia membasahi bibir puteranya dengan air keramat itu dan wajah puteranya pun segera terlihat segar lagi, begitu juga dengan Siti Hajar,  wajahnya terasa segar  dan ia merasa sangat bahagia dengan hadirnya mukzijat dari Allah yang mengembalikan kesegaran hidup kepadanya dan juga kepada putranya setelah sebelumnya dibayang-bayangi oleh kematian karena kelaparan.
 
Dengan dikeluarkannya air zazam itu, datanglah burung-burung mengelilingi daerah yang ada airnya tersebut. Burung-burung kemudian menarik perhatian sekelompok bangsa arab dari suku juhrum yang merantau dan sedang berkemah di sekitar Makkah. Mereka mengetahui dari pengalaman bahwa dia mana ada terlihat burung di udara, maka di bawahnya juga terdapat air, maka mereka mengutus beberapa orang untuk memeriksa kebenaran teori ini. Para pemeriksa itu kemudian pergi mendatangi tempat dimana Siti Hajar berada, kemudian mereka kembali kepada kaumnya dengan membawa kabar gembira mengenai adanya mata air zamzam dan juga keadaan Siti Hajar bersama puteranya. Sejak itu, segeralah sekelompok suku juhrum itu memindahkan perkemahannya ke tempat sekitar zamzam, tentu saja kedatangan suku juhrum tersebut disambut dengan gembira oleh Siti Hajar karena dengan hadirnya sekolompok suku juhrum itu bisa menghilangkan kesunyian dan kesepian yang selama ini dirasakan oleh Siti Hajar yang hanya hidup berdua dengan Ismail saja.  Siti Hajar bersyukur kepada Allah yang maha pengasih dan penyayang, dengan rahmatnya telah membuka hati orang-orang itu untuk datang meramaikan dan memecah kesunyian.
 
Cerita Nabi Ismail dikorbankan
 
Beberapa waktu kemudian Nabi Ibrahim pergi ke Makkah untuk mengunjungi putranya yaitu Nabi Ismail as di tempat yang dianggapnya masih asing, untuk menghilangkan rasa rindu pada putranya yang sangat disayanginya, dan juga untuk menenangkan hatinya yang selalu risau jika mengingat keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus. Jauh dari masyarakat kota dan pergaulan umum.
 
Ketika Nabi Ismail as mencapai usia remaja, Nabi Ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya, yaitu Nabi Ismail.  Dan mimpi seorang Nabi merupakan salah satu dari cara Allah menurunkan wahyunya kepada Nabi, jadi perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim as. Mengetahui perintah itu, Ibrahim duduk dan termenung memikirkan ujian dari Allah yang begitu berat tersebut. Sebagai seorang ayah yang baru saja dikarunia seorang putera setelah puluhan tahun diharapkan dan didambakan, serta saat ini ia sedang penuh kebahagiaan bersama puteranya yang diharapkan bisa menjadi pewaris dan menyambung kelangsungan keturunannya, tiba tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut oleh tangan ayahnya sendiri.
 
Tapi karena ia merupakan seorang Nabi, yang menjadi pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam beribadah kepada Allah, menjalankan segala pernitah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, istri, harta dan benda lain-lain. Tentu ia harus melaksanakan perintah dari Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apapun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.
 
Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim as, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud: “Allah lebih mengetahui dimana dan kepada siap Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi Ibrahim as tidak membuang waktu lagi, berniat tetap akan menyembelih Nabi Ismail as puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Dan berangkatlah Nabi Ibrahim as menuju ke Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan.
 
Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika Nabi Ismail as mulai besar Nabi Ibrahim as berkata : “Hai anakku! Aku telah bermimpi, di dalam tidur seolah-olah saya menyembelih kamu, maka bagaimanakah pendapatmu?”
 
Tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataaan ayahnya :
“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu agar ayah mengikatku kuat kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan Ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkan darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku ketika ibuku melihatnya, ketiga tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaaan dan rasa pendihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya”
 
Kemudian dipeluknya Nabi Ismail as dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata :
“Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah”
 
Cerita Nabi Ismail disembelih
 
Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Nabi Ismail as, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang ditangannya, kedua mata Nabi ibrahi asi tergenang air berpindah memadang dari wajah puteranya ke parah yang mengkilap di tangannya, seakan-akan pada saat itu hari beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail as dan penyembelihan dilakukan. Akan tetapi apa saya, parang yang sudah ditajamkan itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail as dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.
Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizati dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pengorbatan Ismail itu hanya suatu ujian Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu.
Nabi Ibrahim as telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pengorbanan puteranya untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail as tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam melaksanakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika merasa bahwa perang itu tidak mampu memotong lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya :
 
“Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”
Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau telah telangkupkan dan dicoba memotong lehernya dari belakang.
 
Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wayu allah dengan firmannya : dan kami panggilah dia : Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar:. Kemudian sebagia ganti nyawa Nabi Ismail as yang telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim as menyembelih seekor kambing yang telah tersedia disampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tmpul di leher puterangnya tadi itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurnban yang dilakukan oleh umat islam pada setiap hari raya Idhul Adha di seluruh dunia.
 
Cerita Nabi Ismail dan istrinya
 
Ketika Nabi Ismail as telah dewasa, ia dinikahkan dengan seorang wanita dari suku jurhum. Pada suatu hari ketika Nabi Ibrahim as datang ke rumah Nabi Ismail as, namun ketika itu anaknya sedang tidak berada di rumah, namun hanya istrinya yang ada di rumah. Kemudian Nabi Ibrahim as pulang karena rupaya ia tidak dterima dengan baik oleh menantunya itu. Nabi Ibrahim as minta izin pulang dengan meninggalkan pesan untuk anaknya Nabi Ismail as.
 
Nabi Ibrahim berkata: “Jika suamimu datang nanti, katakanlah bahwa saya datang kemari, ceritakanlah ada orang tua sifatnya seperti ini, dan berpesan kepadanya, bahwa saya ini tidak suka kepada bawang pintu rumah ini dan minta supaya lekas ditukarnya”
 
Setelah Nabi Ismail tiba di rumahnya, istrinya tadi menceritakan semua pesan ayahnya kepada Nabi Ismail as.
 
Lalu Nabi Ismail berkata kepada istrinya :
 
“Itulah dia ayahku (Ibrahim) dan rupayanya engkau tidak menghiraukan dan menghormati ayahku, sekarang engkau saya cerai sebab ayahku tidak menyukai orang yang berperangai rendah”
Kemudian Nabi Ismail as menikah kembali dengan seorang wanita jurhum lainya, dan Nabi Ibrahim as sangat menyukai menantu ini. Dari pernikahan dengan wanita kedua ini, Nabi brahim dikarunia keturunan yang banyak dan anak-anaknya menjadi pemimpin kaumnya dan mereka itu dinamakan Rab Musta’ribah.
 
Nabi Ismail meninggal dunia pada umur 137 tahun di negeri Palestina, namun ada riwayat lain yang  menyebutkan bahwa bahwa beliau meninggal di Mekah.
 
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mempunyai wasiat untuk anak cucunya, yang bunyinya sebagai berikut :  “Hai anak-anaku! Sesungguhnya Allah telah memilih islam menjadi agamamu, karena itu janganlah kamu mati kecuali tetap dalam ke Islaman.
 
Semoga kita bisa mengambil banyak hikmah dari cerita Nabi Ismail di atas.