Abdullah bin Kathir menceritakan kisah Hajjaj bin Yusuf ketika masa remajanya, sebelum beliau terkenal dan memegang apa-apa jawatan. Hajjaj pernah solat di samping Said bin Al-Musayyib di Madinah. Hajjaj selalu tergopoh gapah dalam solatnya, sehingga dia bangun dari ruku' sebelum imam bersujud dan bangun ketika imam masih sujud. Sebaik saja solat selesai, Hajjaj telah bergerak untuk bangun, tapi Said bin Al-Musayyib segera menjerat lehernya dengan kain redaknya. Hajjaj meronta untuk beredar, tapi Said terus menahannya sambil berzikir. Jadilah Hajjaj seperti kambing yang sedang ditambat, tidak dapat lari.
Setelah selesai wirid, Said memandang muka Hajjaj sambil berkata: "Wahai pencuri (dalam solat), wahai pengkhianat! Engkau mengerjakan solat semberono seperti itu? Aku tampar muka engkau dengan terompah ini, baru tahu!"
Hajjaj tidak menjawab, dia beredar dari masjid dan terus pergi ke Makkah untuk mengerjakan ibadah haji. Beberapa tahun kemudian, Hajjaj dapat memegang jawatan tinggi dan terkenal sebagai penguasa tegas dan keras. Hajjaj berulang alik ke Madinah setelah mengalahkan dan membunuh Abdullah bin Zubair dalam suatu peperangan di sekitar Masjidil Haram, Makkah.
Suatu hari, dia melihat Said Al-Musayyib sedang mengajar di majlisnya, lalu meluru ke dalam dan duduk di samping ulama Tabiin itu.
Pada mulanya orang-orang yang hadir di majlis itu merasa khuatir pahlawan kejam itu akan mengganggu al-Musayyib.
"Engkau yang mengajar di sini? tanya Hajjaj.
"Ya, saya," jawab Al-Musayyib sambil menepuk dadanya.
"Saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas teguranmu dahulu itu. Selepas itu, setiap saya mengerjakan solat, selalu teringat kepadamu." kata Hajjaj kemudian beredar.
Kisah-kisah yang dikumpulkan di sini dirujuk dari kitab Kasykul, An-Nawadir dan Akhbarul Hamqa wal Mughfilin dan kitab-kitab sejarah seperti Al-Bidayah wan fa', Al-Mustatraf, Jami'atu Karamatil Auliya', Tarikhul Khulahin, Muslim Saints and Mystics, Sufis of Andalusia dll.
Wednesday, July 06, 2005
Friday, July 01, 2005
KHALIFAH YANG PEKA
Khalifah Harun Ar-Rasyid sangat suka mendengar nasehat dan syarahan yang dapat menakutkan hatinya kepada Allah. Suatu hari Fuzdhail bin Iyadh telah diundang oleh beliau untuk memberikan syarahan khusus. Khalifah menghayati betul-betul nasehat Fuzdhail sehingga air matanya mengalir membasahi pipinya kerana takutnya pada Allah.
"Teruskan, teruskan..." pinta Khalifah apabila Fuzdhail berhenti sekejap.
Fuzdhail terus memberikan nasehat, sehingga pada kemuncaknya, Khalifah menjerit dan jatuh pengsan. Wazirnya risau dan Fuzdhail dimarahinya.
"Cukup! cukup! Kalau begini keadaannya, engkau seperti telah membunuh pemimpin kaum Muslimam keseluruhannya." kata Wazir.
"Hai Haman! Engkau diam! Ingat orang seperti engkau dan kuncu-kuncunya inilah yang telah menjerumuskan Khalifah. Aku hanya menasihatinya saja, bukan bermaksud untuk memudaratkannya." kata Fuzdhail.
Khalifah yang telah sedar dari pengsannya itu, tiba-tiba bertambah menangis dan menyesali dirinya.
"Kenapa....................kenapa wahai Amirul Mukminin?" tanya si Wazir, yang bertambah risau melihat Khalifah yang semakin sedih.
"Astaghfirullahal azhim, dia telah menganggapku sebagai Firaun." kata Khalifah, lalu menangis lagi....
"MasyaAllah, dia telah menganggap tuanku sebagai Firaun...? Mana ada wahai Amirul Mukminin?" kata Wazir.
"Sebentar tadi, dia telah memanggilmu sebagai Haman. Sedangkan Haman adalah perdana menteri Firaun. Kalau demikian, aku telah dianggap sebagai Firaunlah." kata Khalifah.
"Teruskan, teruskan..." pinta Khalifah apabila Fuzdhail berhenti sekejap.
Fuzdhail terus memberikan nasehat, sehingga pada kemuncaknya, Khalifah menjerit dan jatuh pengsan. Wazirnya risau dan Fuzdhail dimarahinya.
"Cukup! cukup! Kalau begini keadaannya, engkau seperti telah membunuh pemimpin kaum Muslimam keseluruhannya." kata Wazir.
"Hai Haman! Engkau diam! Ingat orang seperti engkau dan kuncu-kuncunya inilah yang telah menjerumuskan Khalifah. Aku hanya menasihatinya saja, bukan bermaksud untuk memudaratkannya." kata Fuzdhail.
Khalifah yang telah sedar dari pengsannya itu, tiba-tiba bertambah menangis dan menyesali dirinya.
"Kenapa....................kenapa wahai Amirul Mukminin?" tanya si Wazir, yang bertambah risau melihat Khalifah yang semakin sedih.
"Astaghfirullahal azhim, dia telah menganggapku sebagai Firaun." kata Khalifah, lalu menangis lagi....
"MasyaAllah, dia telah menganggap tuanku sebagai Firaun...? Mana ada wahai Amirul Mukminin?" kata Wazir.
"Sebentar tadi, dia telah memanggilmu sebagai Haman. Sedangkan Haman adalah perdana menteri Firaun. Kalau demikian, aku telah dianggap sebagai Firaunlah." kata Khalifah.
Thursday, June 09, 2005
SEDEKAH YANG PALING MURAH
Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut.
Dengan murung lelaki itu mengadu,"Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki , Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?"
Sang Guru menjawab sederhana, "Perbaiki penampilanmu dan ubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya."
Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya. Wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah.
Sebagaimana kata Rasulullah,"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."
Namun demikian tidak berarti Islam mengajarkan kemewahan. Islam justeru menganjurkan kesederhanaan. Baik dalam berpakaian, merias tubuh maupun dalam sikap hidup sehari-hari. Nabi sendiri jubahnya seringkali sudah luntur warnanya tapi senantiasa bersih.
Umar bin Khattab walaupun jawatannya kalifah, pakaiannya sangat sederhana dan bertampal-tampal. Tetapi keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah, wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.
Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum.
Bahkan Rasulullah menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.
Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nescaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang."Anda ingin beramal soleh...?
Dengan murung lelaki itu mengadu,"Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki , Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?"
Sang Guru menjawab sederhana, "Perbaiki penampilanmu dan ubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya."
Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya. Wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah.
Sebagaimana kata Rasulullah,"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."
Namun demikian tidak berarti Islam mengajarkan kemewahan. Islam justeru menganjurkan kesederhanaan. Baik dalam berpakaian, merias tubuh maupun dalam sikap hidup sehari-hari. Nabi sendiri jubahnya seringkali sudah luntur warnanya tapi senantiasa bersih.
Umar bin Khattab walaupun jawatannya kalifah, pakaiannya sangat sederhana dan bertampal-tampal. Tetapi keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah, wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.
Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum.
Bahkan Rasulullah menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.
Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nescaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang."Anda ingin beramal soleh...?
Friday, May 13, 2005
LELAKI TIDAK DIKENALI
Wanita itu dilihatnya menggendong bekas berisi air pada punggungnya, sedang menuju rumahnya. Tersentuhlah hatinya melihat keadaan dan kelemahan wanita itu, lalu diambilnya kirbat itu dari gendongan si wanita beralih ke atas punggung lelaki yang belum dikenali itu.
Ketika sampai ke rumah, tampak anak-anaknya tengah menunggu-nunggu kedatangannya dan tatkala kirbat itu telah turun dari punggungnya, bertanyalah lelaki itu kepadanya. "Tampaknya tidak ada seorang pun lelaki yang membantu. Sekiranya ada, tentu dialah yang menggantikan engkau mengambil air. Kenapakah engkau sampai begini?"
"Suamiku adalah seorang tentera. Dia telah dikirim oleh Ali bin Abi Thalib ke daerah perbatasan. Namun, dia terbunuh di sana."
Setelah mendengar jawaban wanita itu, maka lelaki itu pun pergilah. Namun demikian, agaknya dia memikirkan wanita itu dan anak-anaknya. Oleh sebab itu, hari berikutnya dia muncul lagi ke rumah wanita itu, membawa daging, tepung terigu dan kurma yang dapat dia persiapkan, dan sesampainya di rumah itu, dia mengetuk pintunya: "Siapa mengetuk pintu?"
"Siapa...yang kemaren membawakan kirbatmu. Sekarang saya datang lagi membawa makanan untuk anak-anakmu."
"Semoga Allah meridhai mu dan mengadili antara kami dengan Ali bin Abi Talib."
Pintu dibuka, dan lelaki itu pun masuk lalu meletakkan makanan yang dia bawa di atas lantai. Kemudian, dihampirinya wanita itu seraya berkata: "Saya ingin memperoleh suatu pahala. Izinkanlah saya mengadun tepung ini, biar ku jadikan roti. Atau sayalah yang menjaga anak-anak ini."
"Akan tetapi, aku dapat mengadun tepung dan membuat roti dengan baik. Kau sajalah yang menjagai anak-anak itu."
Setelah wanita itu pergi menunaikan pekerjaannya, lelaki itu bangkit lalu dimasaknya beberapa potong daging yang ia bawa, dan ia hidangkan kepada anak-anak itu dengan sedikit kurma. Anak-anak itu dia suapi seraya berkata kepada mereka: "Maafkan Ali bin Abi Thalib, kalau dia telah menyia-nyiakan hakmu."
Ketika wanita itu selesai mempersiapkan adunan, dia memanggil lelaki tiu dan disuruhnya menyalakan tungku api. Lelaki itu menurut. Kemudian berkobarlah api dalam tungku. Panasnya menyentuh kulit, maka berkatalah lelaki itu dalam hati, "rasakan panas api...inilah balasan bagi orang yang lalai terhadap hak-hak para janda dan anak-anak yatim"
Namun di saat itulah, tiba-tiba datang seorang wanita tetangga, masuk ke rumah itu, dan ketika pandangannya jatuh pada lelaki yang tengah menyalakan tungku, berkatalah ia kepada pemilik rumah: "Tidakkah kau kenal, siapakah lelaki yang kau mintai tolong itu? Sesungguhnya dia adalah Amirul Mukminin Ali Bin Abi Talib."
Seketika itu juga wanita yang lemah itu pun menghampiri al-imam, memohon maaf. "Tidak jangan kau meminta maaf jesteru akulah yang meminta maaf kepadamu, kerana akulah yang telah menyia-nyiakanmu."
Ketika sampai ke rumah, tampak anak-anaknya tengah menunggu-nunggu kedatangannya dan tatkala kirbat itu telah turun dari punggungnya, bertanyalah lelaki itu kepadanya. "Tampaknya tidak ada seorang pun lelaki yang membantu. Sekiranya ada, tentu dialah yang menggantikan engkau mengambil air. Kenapakah engkau sampai begini?"
"Suamiku adalah seorang tentera. Dia telah dikirim oleh Ali bin Abi Thalib ke daerah perbatasan. Namun, dia terbunuh di sana."
Setelah mendengar jawaban wanita itu, maka lelaki itu pun pergilah. Namun demikian, agaknya dia memikirkan wanita itu dan anak-anaknya. Oleh sebab itu, hari berikutnya dia muncul lagi ke rumah wanita itu, membawa daging, tepung terigu dan kurma yang dapat dia persiapkan, dan sesampainya di rumah itu, dia mengetuk pintunya: "Siapa mengetuk pintu?"
"Siapa...yang kemaren membawakan kirbatmu. Sekarang saya datang lagi membawa makanan untuk anak-anakmu."
"Semoga Allah meridhai mu dan mengadili antara kami dengan Ali bin Abi Talib."
Pintu dibuka, dan lelaki itu pun masuk lalu meletakkan makanan yang dia bawa di atas lantai. Kemudian, dihampirinya wanita itu seraya berkata: "Saya ingin memperoleh suatu pahala. Izinkanlah saya mengadun tepung ini, biar ku jadikan roti. Atau sayalah yang menjaga anak-anak ini."
"Akan tetapi, aku dapat mengadun tepung dan membuat roti dengan baik. Kau sajalah yang menjagai anak-anak itu."
Setelah wanita itu pergi menunaikan pekerjaannya, lelaki itu bangkit lalu dimasaknya beberapa potong daging yang ia bawa, dan ia hidangkan kepada anak-anak itu dengan sedikit kurma. Anak-anak itu dia suapi seraya berkata kepada mereka: "Maafkan Ali bin Abi Thalib, kalau dia telah menyia-nyiakan hakmu."
Ketika wanita itu selesai mempersiapkan adunan, dia memanggil lelaki tiu dan disuruhnya menyalakan tungku api. Lelaki itu menurut. Kemudian berkobarlah api dalam tungku. Panasnya menyentuh kulit, maka berkatalah lelaki itu dalam hati, "rasakan panas api...inilah balasan bagi orang yang lalai terhadap hak-hak para janda dan anak-anak yatim"
Namun di saat itulah, tiba-tiba datang seorang wanita tetangga, masuk ke rumah itu, dan ketika pandangannya jatuh pada lelaki yang tengah menyalakan tungku, berkatalah ia kepada pemilik rumah: "Tidakkah kau kenal, siapakah lelaki yang kau mintai tolong itu? Sesungguhnya dia adalah Amirul Mukminin Ali Bin Abi Talib."
Seketika itu juga wanita yang lemah itu pun menghampiri al-imam, memohon maaf. "Tidak jangan kau meminta maaf jesteru akulah yang meminta maaf kepadamu, kerana akulah yang telah menyia-nyiakanmu."
Thursday, May 12, 2005
LAKNAT KUDA
Suatu hari, Abdullah bin Al-Mubarak pergi ke pasar. Dia telah melihat seekor kuda dijual dengan harga 40 dirham.
"Alangkah murahnya kuda ini." katanya.
"Tetapi ada cacatnya," sahut pembeli yang lain.
"Apakah kecacatan kuda ini?" tanya Abdullah.
"Tidak boleh mengejar musuh dan tidak boleh lari dari musuh. Ia akan duduk tetap di tempatnya." ujar pembeli menghina kuda yang murah itu.
"Kalau begitu, kuda ini sungguh bernilai" kata Abdullah sambil berlalu dari situ.
Kuda hina yang dianggap bernilai oleh Abdullah itu akhirnya dibeli oleh anak muridnya. Ketika berlaku perang, dai maju ke medan dengan menunggang kuda itu dan ternyata, ianya berfungsi dengan baik sekali.
Mendengar berita itu, Abdullah bertanya muridnya, "Sudahkah engkau mencuba kecacatannya?"
Dengan jujur, muridnya menjawab, "Betul kuda itu sebagaimana yang tuan guru ceritakan. Ketika saya membeli kuda itu, saya membisikkan ke telinganya 'Hai kudaku, sesungguhnya aku telah bertaubat meninggalkan dosa, maka hari ini, kau harus meninggalkan cacat celamu," kata murid itu. Mendengarkan bisikannya itu, kuda itu menggerak-gerakkan kepala seolah-olah menjawab, "Aku telah meninggalkan dosa,"
Kepada gurunya, murid itu meneruskan cerita, "Di sini aku mengerti bahawa cacat cela itu bukan datang dari kuda, tetapi datang dari pemiliknya. Akibatnya orang kafir itu harus turun dari kudanya. Orang yang zalim seperti juga orang kafir, akan dilaknati oleh kudanya."
Kepada gurunya, murid itu menghuraikan firman Allah dalam surah Hud ayat 8 yang bermaksud : "....ingatlah, kutukan Allah akan ditimpa pada orang-orang yang zalim,"
Dalam ayat tersebut dikatakan, apabila Allah melaknati orang-orang zalim, seluruh miliknya termasuk kudanya akan sama dilaknatinya. Tak hairanlah jika kuda itu ikut melaknati tuannya yang zalim dan kafir itu. Begitu juga laknat yang menimpa orang munafik dan takabbur, sehingga terpaksa mengalah dan turun dari kuda tungganggannya.
"Alangkah murahnya kuda ini." katanya.
"Tetapi ada cacatnya," sahut pembeli yang lain.
"Apakah kecacatan kuda ini?" tanya Abdullah.
"Tidak boleh mengejar musuh dan tidak boleh lari dari musuh. Ia akan duduk tetap di tempatnya." ujar pembeli menghina kuda yang murah itu.
"Kalau begitu, kuda ini sungguh bernilai" kata Abdullah sambil berlalu dari situ.
Kuda hina yang dianggap bernilai oleh Abdullah itu akhirnya dibeli oleh anak muridnya. Ketika berlaku perang, dai maju ke medan dengan menunggang kuda itu dan ternyata, ianya berfungsi dengan baik sekali.
Mendengar berita itu, Abdullah bertanya muridnya, "Sudahkah engkau mencuba kecacatannya?"
Dengan jujur, muridnya menjawab, "Betul kuda itu sebagaimana yang tuan guru ceritakan. Ketika saya membeli kuda itu, saya membisikkan ke telinganya 'Hai kudaku, sesungguhnya aku telah bertaubat meninggalkan dosa, maka hari ini, kau harus meninggalkan cacat celamu," kata murid itu. Mendengarkan bisikannya itu, kuda itu menggerak-gerakkan kepala seolah-olah menjawab, "Aku telah meninggalkan dosa,"
Kepada gurunya, murid itu meneruskan cerita, "Di sini aku mengerti bahawa cacat cela itu bukan datang dari kuda, tetapi datang dari pemiliknya. Akibatnya orang kafir itu harus turun dari kudanya. Orang yang zalim seperti juga orang kafir, akan dilaknati oleh kudanya."
Kepada gurunya, murid itu menghuraikan firman Allah dalam surah Hud ayat 8 yang bermaksud : "....ingatlah, kutukan Allah akan ditimpa pada orang-orang yang zalim,"
Dalam ayat tersebut dikatakan, apabila Allah melaknati orang-orang zalim, seluruh miliknya termasuk kudanya akan sama dilaknatinya. Tak hairanlah jika kuda itu ikut melaknati tuannya yang zalim dan kafir itu. Begitu juga laknat yang menimpa orang munafik dan takabbur, sehingga terpaksa mengalah dan turun dari kuda tungganggannya.
BONUS AMAL SOLEH DI DUNIA
Alkisah, tiga orang sahabat pernah bermalam di sebuah gua dalam suatu perjalanan musafirnya. Tiba-tiba sebuah batu gunung yang besar jatuh persis di hadapan pintu gua itu. Apa daya, mulut gua yang tadinya terbuka kini tertutup rapat. Tiga sahabat ini berusaha untuk mendorong batu, tetapi tenaga mereka tidak mampu untuk menggesernya walau sedikit. Mereka hampir-hampir putus asa lantaran tidak menemukan jalan keluar yang boleh menyelamatkan nyawa mereka.
Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "Apakah kita pernah melakukan suatu amal kebajikan besar sepanjang hidup? Apabila pernah, kita mohon saja dari Allah ganjarannya boleh diberikan segera biar kita boleh selamat dari malapetaka ini."
Mereka berusaha untuk mengingat-ingat amal kebajikan besar apa yang pernah dilakukan sepanjang hayatnya. Kerana mungkin dengan cara seperti ini, Allah berkenan untuk menyelamatkan mereka dari maut yang tidak dikehendakinya itu.
Yang pertama berkata dalam doanya, "Illahi, dahulu aku punya orang tua. Ku pelihara mereka dari anak isteriku sekalipun. Bahkan aku tidak akan menyentuh makanan sebelum tangan kedua mereka yang menyentuhnya. Illahi, suatu hari aku pulang larut malam kerana mencari nafkah. Ku dapati kedua orang tuaku, isteriku dan anak-anakku sudah tertidur. Ku siapkan makanan mereka dan ku hidangkan untuk kedua orang tuaku. Aku tidak mahu membangunkan tidur mereka kerana khuatir mengganggu. Ku tunggui mereka sampailah fajar terbit. Anak-anakku menangis dan bergelentangan di kakiku meminta makanan. Tapi, ya Rabbi, aku tidak beri mereka makanan itu sampailah kedua orang tuaku bangun dan memakannya. Illahi, apabila yang ku lakukan itu semata-mata kerana wajah-Mu dan ada nilainya di sisi-Mu, maka selamatkanlah kami dari bencana ini."
Tiba-tiba dengan batu gunung yang besar itu, dengan kuasa Allah bergeser sedikit dari tempatnya. Namun, mereka masih belum boleh keluar dari sana.
Yang kedua berdoa, "Allahumma, ya Allah, dahulu aku punya seorang sepupu perempuan. Aku sangat mencintainya. Suatu hari aku berniat jahat padanya, tetapi dia menolak. Selang berapa tahun kemudian, dia mendatangiku. Ku berikan padanya wang seratus dua puluh dinar dengan syarat dia mahu melayaniku. Ketika aku akan menyentuhnya, dia berkata padaku, 'ittaqullah, takutlah kamu pada Allah. Tiada berhak seseorang menyentuh wanita lain kecuali isterinya." Aku lari meninggalkannya padahal dia adalah wanita yang paling ku cintai. Aku juga tidak mengambil kembali wang yang telah ku berikan padanya. Illahi ya Rabbi, apabila yang ku lakukan itu ada nilainya di sisi Mu, maka selamatkanlah kami dari tempat ini."
Tiba-tiba dengan kuasa Allah batu raksasa itu bergeser lagi sedikit. Akan tetapi, mereka masih belum boleh keluar.
Yang ketiga berdoa, "Ya Allah ya Rabbi. Dahulu aku ada banyak pekerja. Setiap saat ku bayar gaji mereka dengan penuh. Suatu hari salah seorang dari mereka tidak datang untuk mengambil gajinya. Ku simpan wangnya dan ku jadikan modal usaha sampai akhirnya ia berkembang. Kemudian dia datang untuk meminta gajinya. Ku katakan padanya bahawa binatang-binatang ternak yang ada, unta, sapi, kambing, dan hamba-hamba sahaya itu adalah milikmu. Awalnya dia tidak percaya, tetapi setelah aku jelaskan diambil semua miliknya dan tidak sedikit pun dibiarkannya untuk ku. Ya Allah ya Rabbi, apabila yang ku lakukan itu ada nilainya di sisi-Mu, maka selamatkan kami dari tempat ini."
Dengan kuasa Allah, batu gunung yang besar itu akhirnya bergeser lagi. Akhirnya mereka keluar dan selamat dari bencana besar itu.
Mengomentari cerita ini, Ibnu Hajar berkata, "Jika bertawasul dengan amal soleh dan amal kebajikan boleh bermanfaat, apa lagi bertawasul dengan tokoh-tokoh amal soleh."
Salah seorang dari mereka kemudian berkata, "Apakah kita pernah melakukan suatu amal kebajikan besar sepanjang hidup? Apabila pernah, kita mohon saja dari Allah ganjarannya boleh diberikan segera biar kita boleh selamat dari malapetaka ini."
Mereka berusaha untuk mengingat-ingat amal kebajikan besar apa yang pernah dilakukan sepanjang hayatnya. Kerana mungkin dengan cara seperti ini, Allah berkenan untuk menyelamatkan mereka dari maut yang tidak dikehendakinya itu.
Yang pertama berkata dalam doanya, "Illahi, dahulu aku punya orang tua. Ku pelihara mereka dari anak isteriku sekalipun. Bahkan aku tidak akan menyentuh makanan sebelum tangan kedua mereka yang menyentuhnya. Illahi, suatu hari aku pulang larut malam kerana mencari nafkah. Ku dapati kedua orang tuaku, isteriku dan anak-anakku sudah tertidur. Ku siapkan makanan mereka dan ku hidangkan untuk kedua orang tuaku. Aku tidak mahu membangunkan tidur mereka kerana khuatir mengganggu. Ku tunggui mereka sampailah fajar terbit. Anak-anakku menangis dan bergelentangan di kakiku meminta makanan. Tapi, ya Rabbi, aku tidak beri mereka makanan itu sampailah kedua orang tuaku bangun dan memakannya. Illahi, apabila yang ku lakukan itu semata-mata kerana wajah-Mu dan ada nilainya di sisi-Mu, maka selamatkanlah kami dari bencana ini."
Tiba-tiba dengan batu gunung yang besar itu, dengan kuasa Allah bergeser sedikit dari tempatnya. Namun, mereka masih belum boleh keluar dari sana.
Yang kedua berdoa, "Allahumma, ya Allah, dahulu aku punya seorang sepupu perempuan. Aku sangat mencintainya. Suatu hari aku berniat jahat padanya, tetapi dia menolak. Selang berapa tahun kemudian, dia mendatangiku. Ku berikan padanya wang seratus dua puluh dinar dengan syarat dia mahu melayaniku. Ketika aku akan menyentuhnya, dia berkata padaku, 'ittaqullah, takutlah kamu pada Allah. Tiada berhak seseorang menyentuh wanita lain kecuali isterinya." Aku lari meninggalkannya padahal dia adalah wanita yang paling ku cintai. Aku juga tidak mengambil kembali wang yang telah ku berikan padanya. Illahi ya Rabbi, apabila yang ku lakukan itu ada nilainya di sisi Mu, maka selamatkanlah kami dari tempat ini."
Tiba-tiba dengan kuasa Allah batu raksasa itu bergeser lagi sedikit. Akan tetapi, mereka masih belum boleh keluar.
Yang ketiga berdoa, "Ya Allah ya Rabbi. Dahulu aku ada banyak pekerja. Setiap saat ku bayar gaji mereka dengan penuh. Suatu hari salah seorang dari mereka tidak datang untuk mengambil gajinya. Ku simpan wangnya dan ku jadikan modal usaha sampai akhirnya ia berkembang. Kemudian dia datang untuk meminta gajinya. Ku katakan padanya bahawa binatang-binatang ternak yang ada, unta, sapi, kambing, dan hamba-hamba sahaya itu adalah milikmu. Awalnya dia tidak percaya, tetapi setelah aku jelaskan diambil semua miliknya dan tidak sedikit pun dibiarkannya untuk ku. Ya Allah ya Rabbi, apabila yang ku lakukan itu ada nilainya di sisi-Mu, maka selamatkan kami dari tempat ini."
Dengan kuasa Allah, batu gunung yang besar itu akhirnya bergeser lagi. Akhirnya mereka keluar dan selamat dari bencana besar itu.
Mengomentari cerita ini, Ibnu Hajar berkata, "Jika bertawasul dengan amal soleh dan amal kebajikan boleh bermanfaat, apa lagi bertawasul dengan tokoh-tokoh amal soleh."
Wednesday, May 11, 2005
MENGKEBUMIKAN BABI HUTAN
Seorang kanak-kanak datang mengadap Rasulullah SAW sambil menangis. Hal itu menghairankan Rasulullah yang sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya.
"Mengapa engkau menangis anakku?" tanya Rasulullah.
"Ayahku telah meninggal, tapi tidak seorang pun datang melawat. Aku tidak mempunyai kain kafan. Siapakah yang akan memandikan ayahku dan mengkebumikannya? tanya anak itu.
Lalu, Nabi menyuruh Abu Bakar dan Umar pergi melihat jenazah tersebut. Kedua mereka amat terkejut setelah melihat mayat itu sudah bertukar menjadi babi hutan. Mereka pun segera pergi memberitahu Rasulullah.
Maka, Rasulullah datang sendiri ke rumah anak itu. Baginda berdoa kepada Allah sehingga babi hutan itu bertukar menjadi jenazah manusia. Kemudian, Rasulullah menyembahyangkan jenazah tersebut. Ketika jenazah itu hendak dikebumikan, ia berubah menjadi babi hutan semula.
Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada kanak-kanak tersebut, apakah yang dilakukan oleh ayahnya sewaktu hidupnya.
"Ayahku tidak pernah mengerjakan solat sepanjang hidupnya," jawab anak itu. Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya. "Para sahabat lihatlah sendiri. Begitulah akibatnya, bila orang meninggalkan solat selama hidupnya. Ia akan menjadi babi hutan di hari kiamat."
"Mengapa engkau menangis anakku?" tanya Rasulullah.
"Ayahku telah meninggal, tapi tidak seorang pun datang melawat. Aku tidak mempunyai kain kafan. Siapakah yang akan memandikan ayahku dan mengkebumikannya? tanya anak itu.
Lalu, Nabi menyuruh Abu Bakar dan Umar pergi melihat jenazah tersebut. Kedua mereka amat terkejut setelah melihat mayat itu sudah bertukar menjadi babi hutan. Mereka pun segera pergi memberitahu Rasulullah.
Maka, Rasulullah datang sendiri ke rumah anak itu. Baginda berdoa kepada Allah sehingga babi hutan itu bertukar menjadi jenazah manusia. Kemudian, Rasulullah menyembahyangkan jenazah tersebut. Ketika jenazah itu hendak dikebumikan, ia berubah menjadi babi hutan semula.
Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada kanak-kanak tersebut, apakah yang dilakukan oleh ayahnya sewaktu hidupnya.
"Ayahku tidak pernah mengerjakan solat sepanjang hidupnya," jawab anak itu. Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya. "Para sahabat lihatlah sendiri. Begitulah akibatnya, bila orang meninggalkan solat selama hidupnya. Ia akan menjadi babi hutan di hari kiamat."
Monday, April 11, 2005
SEGANTANG GANDUM MAKANAN 1000 ORANG
Jabir RA berkata pada masa pertahanan Khandak, aku lihat Rasulullah dalam keadaan lapar sekali. Aku pun bertanya kepada isteriku kalau ada apa-apa yang boleh dimasak untuk Rasulullah.
Kata isteriku, "Kita cuma ada segantang gandumd an seekor kambing sahaja."
Lalu aku pun menyembelih kambing itu sedang isteriku mengadunkan roti. Setelah selesai, aku pun pergi menjemput Rasulullah dan beberapa orang sahabat. Mendengarkan jemputan ini, Rasulullah lalu menghebahkannya kepada semua tentera Khandak.
Bilangan mereka hampir 1000 orang, sedangkan makanan yang Jabir sediakan hanya untuk beberapa orang sahaja. Jabir menjadi gelisah, tetapi sebelum pulang, Rasulullah berpesan kepada Jabir, "Jangan kamu turunkan kualimu dan jangan kamu masak dahulu roti itu sebelum aku datang."
Beberapa lama kemudian, Rasulullah pun sampai. Aku dan isteriku merasa resah dan pasti kami akan mendapat malu di hadapan Rasulullah dengan makanan yang sedikit ini.
Maka aku pun mengeluarkan roti itu lalu diberkati oleh Rasulullah, begitu juga dengan daging dan kambingnya. Rasulullah berkata kepada isteriku, "Dapatkan seorang tukang roti untuk membantumu, kemudian ceduklah kuah itu dari tempatnya.
Setelah siap, lalu makanlah semua yang datang dengan cukupnya malahan mereka makan dengan kenyang. Aku (Jabir) bersumpah dengan nama Allah, setelah mereka semua pulang, kualiku masih penuh seperti sediakala begitu juga dengan rotinya.
Kata isteriku, "Kita cuma ada segantang gandumd an seekor kambing sahaja."
Lalu aku pun menyembelih kambing itu sedang isteriku mengadunkan roti. Setelah selesai, aku pun pergi menjemput Rasulullah dan beberapa orang sahabat. Mendengarkan jemputan ini, Rasulullah lalu menghebahkannya kepada semua tentera Khandak.
Bilangan mereka hampir 1000 orang, sedangkan makanan yang Jabir sediakan hanya untuk beberapa orang sahaja. Jabir menjadi gelisah, tetapi sebelum pulang, Rasulullah berpesan kepada Jabir, "Jangan kamu turunkan kualimu dan jangan kamu masak dahulu roti itu sebelum aku datang."
Beberapa lama kemudian, Rasulullah pun sampai. Aku dan isteriku merasa resah dan pasti kami akan mendapat malu di hadapan Rasulullah dengan makanan yang sedikit ini.
Maka aku pun mengeluarkan roti itu lalu diberkati oleh Rasulullah, begitu juga dengan daging dan kambingnya. Rasulullah berkata kepada isteriku, "Dapatkan seorang tukang roti untuk membantumu, kemudian ceduklah kuah itu dari tempatnya.
Setelah siap, lalu makanlah semua yang datang dengan cukupnya malahan mereka makan dengan kenyang. Aku (Jabir) bersumpah dengan nama Allah, setelah mereka semua pulang, kualiku masih penuh seperti sediakala begitu juga dengan rotinya.
HAKIM YANG BIJAK
Seorang wanita dermawan yang sudah berumur telah memberi seekor kambing kepada Luqman Hakim. Dia meminta Luqman menyembelih kambing itu dan berpesan "Berilah bahagian yang terburuk darinya untuk saya makan."
Setelah Luqman menyembelih kambing itu, dia pun menghantarkan hati dan lidahnya kepada wanita tersebut.
Beberapa hari kemudian, wanita itu memberikan lagi seekor kambing untuk disembelih. Kali ini dia berpesan untuk memberinya sebahagian yang terbaik dari kambing itu. Setelah disembelih, Luqman pun menghantarkan hati dan lidah juga kepada wanita itu.
Wanita itu kehairanan dan bertanya kepada Luqman, "Mengapakah tuan menghantar lidah dan hati kepada saya, sedangkan saya meminta bahagian yang terburuk. Dan mengapakah kedua-duanya juga dihantarkan kepada saya ketika saya memesan menghantarkan bahagian yang terbaik?"
Luqman menjawab, "Hati dan lidah sangat baik ketika baiknya, dan apabila keduanya jahat, maka sangatlah buruknya!"
Mendengarkan jawaban yang bijaksana itu, wanita itu lalu memahami maksud Luqman. Sebabnya hati dan lidah adalah pokok segala kebaikan. Begitu juga sebaliknya, dari hati dan lidah juga lahir segala kejahatan dan keburukan. Oleh itu, hati dan lidah adalah punca segala kebaikan dan kejahatan.
Setelah Luqman menyembelih kambing itu, dia pun menghantarkan hati dan lidahnya kepada wanita tersebut.
Beberapa hari kemudian, wanita itu memberikan lagi seekor kambing untuk disembelih. Kali ini dia berpesan untuk memberinya sebahagian yang terbaik dari kambing itu. Setelah disembelih, Luqman pun menghantarkan hati dan lidah juga kepada wanita itu.
Wanita itu kehairanan dan bertanya kepada Luqman, "Mengapakah tuan menghantar lidah dan hati kepada saya, sedangkan saya meminta bahagian yang terburuk. Dan mengapakah kedua-duanya juga dihantarkan kepada saya ketika saya memesan menghantarkan bahagian yang terbaik?"
Luqman menjawab, "Hati dan lidah sangat baik ketika baiknya, dan apabila keduanya jahat, maka sangatlah buruknya!"
Mendengarkan jawaban yang bijaksana itu, wanita itu lalu memahami maksud Luqman. Sebabnya hati dan lidah adalah pokok segala kebaikan. Begitu juga sebaliknya, dari hati dan lidah juga lahir segala kejahatan dan keburukan. Oleh itu, hati dan lidah adalah punca segala kebaikan dan kejahatan.
SATU DALAM 600,000 ORANG
Abdullah bin Mubarak menceritakan sewaktu beliau tertidur di Masjidil Haram, beliau ternampak dua malaikat turun dari langit. Berkata salah seorang darinya, “Berapa ramai bilangan yang menunaikan haji tahun ini?” Jawab yang disebelahnya, “600,000 orang.”
“Di antara mereka berapakah yang diterima hajinya?” Jawab malaikat kedua, “Di antara mereka, hanya seorang saja. Namanya Muwaffaq, dia tinggal di Damsyik, pekerjaannya sebagai tukang kasut, dia tidak dapat berhaji, tetapi hajinya diterima oleh Allah,” Bila tersedar dari tidur, Abdullah segera berangkat ke Damsyik untuk mencari lelaki ini.
Setelah bertemu, Abdullah pun bertanya, “Terangkan padaku, apakah amalanmu sehingga mencapai darjat yang tinggi?” Jawab Muwaffaq, “Dengan rahmat Allah, aku telah mengumpulkan wang sebanyak 300 dirham yang aku simpankannya untuk mengerjakan haji pada tahun ini. Waktu itu, isteriku sedang hamil dan dia telah tercium sesuatu dari rumah jiran dan dia menyuruhku memintanya sedikit kerana mengidam.
Aku pun mendapatkan jiranku itu. Berkata jiranku kepadaku, “Aku terpaksa memberitahumu satu perkara, anak-anakku sudah tiga hari tidak makan.”
Sewaktu aku keluar mencari makanan, aku terjumpa bangkai himar lalu aku potong sebahagian dagingnya lalu aku masak, maka makanan ini halal bagi kami tetapi haram bagimu.
Mendengarkan kata-kata wanita ini, aku segera pulang ke rumah dan mengambil wang 300 dirham itu lalu aku berikan padanya. Aku berkata kepada diriku, “hajiku hanya di pintu rumah jiranku.” Hanya itulah saja amalanku.
Demikianlah besarnya rahmat Allah kepada hambanya, sesungguhnya Allah tidak memandang pada harga yang kita ada tetapi niat yang ikhlas lagi suci.
“Di antara mereka berapakah yang diterima hajinya?” Jawab malaikat kedua, “Di antara mereka, hanya seorang saja. Namanya Muwaffaq, dia tinggal di Damsyik, pekerjaannya sebagai tukang kasut, dia tidak dapat berhaji, tetapi hajinya diterima oleh Allah,” Bila tersedar dari tidur, Abdullah segera berangkat ke Damsyik untuk mencari lelaki ini.
Setelah bertemu, Abdullah pun bertanya, “Terangkan padaku, apakah amalanmu sehingga mencapai darjat yang tinggi?” Jawab Muwaffaq, “Dengan rahmat Allah, aku telah mengumpulkan wang sebanyak 300 dirham yang aku simpankannya untuk mengerjakan haji pada tahun ini. Waktu itu, isteriku sedang hamil dan dia telah tercium sesuatu dari rumah jiran dan dia menyuruhku memintanya sedikit kerana mengidam.
Aku pun mendapatkan jiranku itu. Berkata jiranku kepadaku, “Aku terpaksa memberitahumu satu perkara, anak-anakku sudah tiga hari tidak makan.”
Sewaktu aku keluar mencari makanan, aku terjumpa bangkai himar lalu aku potong sebahagian dagingnya lalu aku masak, maka makanan ini halal bagi kami tetapi haram bagimu.
Mendengarkan kata-kata wanita ini, aku segera pulang ke rumah dan mengambil wang 300 dirham itu lalu aku berikan padanya. Aku berkata kepada diriku, “hajiku hanya di pintu rumah jiranku.” Hanya itulah saja amalanku.
Demikianlah besarnya rahmat Allah kepada hambanya, sesungguhnya Allah tidak memandang pada harga yang kita ada tetapi niat yang ikhlas lagi suci.
Thursday, December 30, 2004
AKU HANYA IKUT RENTAK BURUNG
Asy-Syibli yang sedang duduk di bawah sebatang pokok sambil berseru: "Hu..hu..hu..hu..hu.."
Akibatnya, orang ramai menyangka bahwa Asy-Syibli telah mengamalkan ajaran sesat kerana berzikir dengan kata-kata yang tidak ada nashnya. "Engkau telah berzikir yang tidak ada nashnya!" kata teman-temannya.
"Mana ada?" bantah Asy-Syibli.
"Engkau berzikir dengan hu hu hu hu hu...itu dari mana sumbernya?" tanya mereka.
"Burung merpati di atas pokok itu telah menyanyi dengan bunyi "ku..ku..ku....." maka aku mengikuti rentaknya dengan hu..hu..hu.." jawab Asy-Syibli.
Beberapa orang teman Asy-Syibli telah datang mengunjungi beliau yang telah dimasukkan ke rumah orang sakit jiwa kerana telah dituduh gila.
"Siapa kalian?" tanya Asy-Syibli.
"Kami ini sahabat-sahabatmu..." jawab mereka.
Ketika itu juga Asy-Syibli membaling mereka dengan beberapa ketul batu, maka larilah lintang pukang teman-temannya. "Kalian pembohong! Apakah orang yang mengaku sahabat akan lari bertempiaran hanya kerana beberapa ketul batu? Sikapmu ini membuktikan bahwa kamu adalah sahabatmu sendiri, bukan sahabatku." kata Asy-Syibli.
Akibatnya, orang ramai menyangka bahwa Asy-Syibli telah mengamalkan ajaran sesat kerana berzikir dengan kata-kata yang tidak ada nashnya. "Engkau telah berzikir yang tidak ada nashnya!" kata teman-temannya.
"Mana ada?" bantah Asy-Syibli.
"Engkau berzikir dengan hu hu hu hu hu...itu dari mana sumbernya?" tanya mereka.
"Burung merpati di atas pokok itu telah menyanyi dengan bunyi "ku..ku..ku....." maka aku mengikuti rentaknya dengan hu..hu..hu.." jawab Asy-Syibli.
Beberapa orang teman Asy-Syibli telah datang mengunjungi beliau yang telah dimasukkan ke rumah orang sakit jiwa kerana telah dituduh gila.
"Siapa kalian?" tanya Asy-Syibli.
"Kami ini sahabat-sahabatmu..." jawab mereka.
Ketika itu juga Asy-Syibli membaling mereka dengan beberapa ketul batu, maka larilah lintang pukang teman-temannya. "Kalian pembohong! Apakah orang yang mengaku sahabat akan lari bertempiaran hanya kerana beberapa ketul batu? Sikapmu ini membuktikan bahwa kamu adalah sahabatmu sendiri, bukan sahabatku." kata Asy-Syibli.
ABU SHALIH DAN ABU SALIH
Diceritakan bahawa seorang ulama bernama Nashr sakit, lalu seorang temannya yang bernama Abu Shalih datang menziarahinya. Kedua-dua orang itu sama-sama alim. Dalam kesempatan menggembirakan si sakit, Abu Shalih tidak lupa mendoakan dan memberi semangat kepada temannya itu.
"Masahallahu ma bika (semoga Allah menyembuhkan penyakitmu)" kata Abu Shalih.
"Katakan mashahallahu, yakni dengan huruf shad bukan sin." kata Nashr, yang ertinya semoga Allah melenyapkan (menyembuhkan) penyakitmu.
"Mana boleh. Kalau sin ditukar dengan shad akan menjadi seperti shirat (jalan) dan shaqar (memukul)." kata Abu Shalih. Shaqar juga menunjukkan nama neraka.
Nashr tidak mahu bercakap banyak lalu menegur: "Kalau begitu namamu bukan Shalih tapi Salih."
Mendengar itu, Abu Shalih diam dan merasa malu akibat perkataannya sendiri. Maklumlah...Shalih bermakna orang yang baik sedang Salih bermakna tukang membuang kotoran atau dengan kata lain tukang korek tandas.
"Masahallahu ma bika (semoga Allah menyembuhkan penyakitmu)" kata Abu Shalih.
"Katakan mashahallahu, yakni dengan huruf shad bukan sin." kata Nashr, yang ertinya semoga Allah melenyapkan (menyembuhkan) penyakitmu.
"Mana boleh. Kalau sin ditukar dengan shad akan menjadi seperti shirat (jalan) dan shaqar (memukul)." kata Abu Shalih. Shaqar juga menunjukkan nama neraka.
Nashr tidak mahu bercakap banyak lalu menegur: "Kalau begitu namamu bukan Shalih tapi Salih."
Mendengar itu, Abu Shalih diam dan merasa malu akibat perkataannya sendiri. Maklumlah...Shalih bermakna orang yang baik sedang Salih bermakna tukang membuang kotoran atau dengan kata lain tukang korek tandas.
KEBESARAN JIWA SALMAN AL FARISI
Salman Al Farisi tergolong salah seorang sahabat akrab Rasulullah saw. Beliau berasal dari negeri Farsi dan merupakan salah seorang dari kumpulan orang-orang islam yang permulaan. Pernah dimasa hidupnya Salman Al Farisi ini telah diberi jawatan sebagai amir atau gabenor di salah sebuah jajahan takluk Islam. Namun demikian, kedudukannya itu sedikit pun tidak mengubah peribadinya yang sangat penyantun, rendah diri serta zuhud terhadap kemewahan dunia. Oleh keranan keadaan hidupnya yang sangat sederhana itu sukar sekali orang lain mengenalinya sebagai gabenor di wilayah itu.
Pada suatu hari adalah diriwayatkan bahawa seorang rakyat awam tanpa mengenali Salman terus menariknya secara kasar lalu menyuruhnya melakukan suatu kerja yang berat untuknya. Orang itu menjumpai Salman Al Farisi yang tidak dikenalinya itu dijalanan. Ia mempunyai sebuah karung besar berisi rumput lalu menyuruh Salman Al Farisi memikulnya hingga ke rumahnya. Maka Salman yang berhati mulia itu tanpa banyak soal pun terus memikulnya sambil berjalan.
Kebetulan sedang mereka berjalan di jalanraya itu, lalulah seorang lelaki lain sambil mengucapkan Assalamualaikum kepada Salman Al Farisi. Salman lantas membalas salam orang yang dikenalinya itu. Oleh kerana terkejut melihat gabenornya memikul karung itu, maka orang yang mengenali Salman itu terus menanyakan orang lelaki yang berjalan bersama gabenor nya itu, "Wahai Tuan...tahukah tuan bahawa orang yang memikul karung itu adalah Salman Al Farisi...amir negeri kita ini?"
Wah..tentu terkejut sekali lelaki itu mendengarkan perkataan orang itu. Apa lagi bila dikenangnya bahawa orang yang telah dikasarinya itu adalah gabenornya sendiri. Maka dia pun lantas meminta maaf lalu meminta Salman menurunkan karung yang sedang dipikulnya itu. Tetapi Salman menjawab, "Oh tidak mengapa tuan, biarlah saya pikul karung ini sehingga sampai ke rumah tuan.
Demikianlah ketinggian budi Salman Al Farisi, salah seorang sahabat besar Rasulullah saw.
Pada suatu hari adalah diriwayatkan bahawa seorang rakyat awam tanpa mengenali Salman terus menariknya secara kasar lalu menyuruhnya melakukan suatu kerja yang berat untuknya. Orang itu menjumpai Salman Al Farisi yang tidak dikenalinya itu dijalanan. Ia mempunyai sebuah karung besar berisi rumput lalu menyuruh Salman Al Farisi memikulnya hingga ke rumahnya. Maka Salman yang berhati mulia itu tanpa banyak soal pun terus memikulnya sambil berjalan.
Kebetulan sedang mereka berjalan di jalanraya itu, lalulah seorang lelaki lain sambil mengucapkan Assalamualaikum kepada Salman Al Farisi. Salman lantas membalas salam orang yang dikenalinya itu. Oleh kerana terkejut melihat gabenornya memikul karung itu, maka orang yang mengenali Salman itu terus menanyakan orang lelaki yang berjalan bersama gabenor nya itu, "Wahai Tuan...tahukah tuan bahawa orang yang memikul karung itu adalah Salman Al Farisi...amir negeri kita ini?"
Wah..tentu terkejut sekali lelaki itu mendengarkan perkataan orang itu. Apa lagi bila dikenangnya bahawa orang yang telah dikasarinya itu adalah gabenornya sendiri. Maka dia pun lantas meminta maaf lalu meminta Salman menurunkan karung yang sedang dipikulnya itu. Tetapi Salman menjawab, "Oh tidak mengapa tuan, biarlah saya pikul karung ini sehingga sampai ke rumah tuan.
Demikianlah ketinggian budi Salman Al Farisi, salah seorang sahabat besar Rasulullah saw.
Wednesday, December 29, 2004
QABIL DAN HABIL
Pada zaman dahulu Siti Hawa, isteri Nabi Adam mempunyai seratus dua puluh orang putera puteri. Setiap melahirkan pasti kembar yang terdiri dari lelaki dan perempuan. Menurut syariatnya Nabi Adam, putera-puterinya itu dijodohkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Mula pertama Siti Hawa melahirkan Qabil dan Iklima. Kemudian untuk yang kedua kalinya beliau melahirkan Habil dengan Damina. Iklima itu adik Qabil mempunyai paras yang cantik sekali, sedap dipandang mata. Sedangkan Damina dianugerahi oleh Allah paras yang tidak begitu menawan seperti kakaknya Iklima.
Maka pada suatu hari Nabi Adam mendapatkan wahyu dari Allah swt yang menyuruh menjodohkan anaknya secara berselang-seli. Jadi Qabil harus dijodohkan dengan Damina, Habil dijodohkan dengan Iklima. Wahyu ini oleh Nabi Adam disampaikan kepada anak-anaknya.
"Bapak," kata Qabil, "Saya tidak akan menerima keputusan bapak, sayalah yang berhak berkahwin dengan Iklima, kerana kelahirannya bersama-sama dengan saya."
"Bapak," sahut Habil pula, "Saya tinggal menyerah kepada keputusan bapak, kerana itulah kehendak Allah."
Nabi Adam hanya diam sahaja mendengar jawapan anak-anaknya. Tetapi Qabil berkata lagi, "Tidak bapak! Saya tetap tidak setuju. Apabila bapak tetap melaksanakan keputusan itu, bererti bapak memang mencintai Habil dan membenci saya."
Menghadapi keputusan anaknya Qabil yang tidak dapat ubah sama sekali ini, beliau berkata, "Anak-anakku, sekarang pergilah kamu berdua minta keputusan dari Allah, dengan membawa korban sendiri-sendiri."
Maka esok paginya keduanya pergi ke tempat di mana Nabi Adam selalu bersujud kepada Allah. Qabil membawa selonggok buah-buahan sesuai dengan pekerjaannya sehari-hari sebagai petani. Sedang Habil adiknya membawa seekor kambing sesuai dengan pekerjaannya sebagai pengembala. Keduanya lalu meletakkan korbannya masing-masing di tempat yang sudah tersedia.
Tidak lama kemudian turunlah api tanpa asap membakar korbannya Habil tanpa mendekati kurbannya Qabil. Dengan dasar inilah maka Nabi Adam memberi keputusan bahawa Habil lah yang benar, sehingga Habil berhak mengahwini Iklima. Keputusan ini membuat kedengkian Qabil terhadap adiknya Habil membara. Maka Qabil akhirnya memutuskan untuk membunuh adiknya ini. Niatnya itu betul-betul dilaksanakan sehingga pada suatu saat di hari Selasa, terbunuhlah Habil di tangan abangnya sendiri.
Sejak peristiwa ini maka mulailah terjadinya pembunuhan-pembunuhan antara sesama manusia kerana masaalah wanita. Di sinilah Qabil selalu mendapatkan kutukan kerana dialah yang telah memberi contoh sebagai seorang yang selalu menuruti hawa nafsu syaitan.
Mula pertama Siti Hawa melahirkan Qabil dan Iklima. Kemudian untuk yang kedua kalinya beliau melahirkan Habil dengan Damina. Iklima itu adik Qabil mempunyai paras yang cantik sekali, sedap dipandang mata. Sedangkan Damina dianugerahi oleh Allah paras yang tidak begitu menawan seperti kakaknya Iklima.
Maka pada suatu hari Nabi Adam mendapatkan wahyu dari Allah swt yang menyuruh menjodohkan anaknya secara berselang-seli. Jadi Qabil harus dijodohkan dengan Damina, Habil dijodohkan dengan Iklima. Wahyu ini oleh Nabi Adam disampaikan kepada anak-anaknya.
"Bapak," kata Qabil, "Saya tidak akan menerima keputusan bapak, sayalah yang berhak berkahwin dengan Iklima, kerana kelahirannya bersama-sama dengan saya."
"Bapak," sahut Habil pula, "Saya tinggal menyerah kepada keputusan bapak, kerana itulah kehendak Allah."
Nabi Adam hanya diam sahaja mendengar jawapan anak-anaknya. Tetapi Qabil berkata lagi, "Tidak bapak! Saya tetap tidak setuju. Apabila bapak tetap melaksanakan keputusan itu, bererti bapak memang mencintai Habil dan membenci saya."
Menghadapi keputusan anaknya Qabil yang tidak dapat ubah sama sekali ini, beliau berkata, "Anak-anakku, sekarang pergilah kamu berdua minta keputusan dari Allah, dengan membawa korban sendiri-sendiri."
Maka esok paginya keduanya pergi ke tempat di mana Nabi Adam selalu bersujud kepada Allah. Qabil membawa selonggok buah-buahan sesuai dengan pekerjaannya sehari-hari sebagai petani. Sedang Habil adiknya membawa seekor kambing sesuai dengan pekerjaannya sebagai pengembala. Keduanya lalu meletakkan korbannya masing-masing di tempat yang sudah tersedia.
Tidak lama kemudian turunlah api tanpa asap membakar korbannya Habil tanpa mendekati kurbannya Qabil. Dengan dasar inilah maka Nabi Adam memberi keputusan bahawa Habil lah yang benar, sehingga Habil berhak mengahwini Iklima. Keputusan ini membuat kedengkian Qabil terhadap adiknya Habil membara. Maka Qabil akhirnya memutuskan untuk membunuh adiknya ini. Niatnya itu betul-betul dilaksanakan sehingga pada suatu saat di hari Selasa, terbunuhlah Habil di tangan abangnya sendiri.
Sejak peristiwa ini maka mulailah terjadinya pembunuhan-pembunuhan antara sesama manusia kerana masaalah wanita. Di sinilah Qabil selalu mendapatkan kutukan kerana dialah yang telah memberi contoh sebagai seorang yang selalu menuruti hawa nafsu syaitan.
SUNGAI YANG TUNDUK ATAS PERINTAH SAIYIDINA UMAR IBNUL KHATTAB
Tatkala negeri Mesir mula ditakluki oleh tentara Islam Khalifah Umar Ibnul Khattab yang memerintah Kerajaan Islam ketika itu telah melantik Amru Bin Al As sebagai gabenor di wilayah islam yang baru itu. Amru Bin Al As memang terkenal seorang pahlawan Islam yang berani serta pentadbir yang cekap dan bijaksana.
Semasa Amru Bin Al As menjadi gabenor Mesir, suatu peristiwa ganjil telah berlaku. Air sungai Nil dikatakan akan berhenti mengalir beberapa bulan lagi dan penduduk-penduduk Mesir bercadang untuk melakukan upacara jahiliah dengan mengorbankan seorang anak gadis yang cantik ke dalam sungai itu. Mereka mendesak Amru Bin Al As supaya melakukan upacara itu. Beliau yang sebagai pemerintah Islam dan tokoh sahabat Rasulullah SAW tentu sekali berkeras tidak mahu melakukan sebab terang sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang suci.
Tidak berapa lama kemudian air sungai Nil benar-benar mulai kering. Oleh kerana pertanian di negeri Mesir itu bergantung kepada air sungai tersebut, penduduk-penduduk pun menjadi semakin cemas. Ada sebahagian mereka terpaksa berpindah ke kawasan tanah lain yang lebih subur.
Keadaan ini akhirnya memaksa Amru Bin Al As menulis surat kepada Khalifah Umar Ibnul Khattab di Madinah untuk meminta pandangannya. Amru Bin Al As sendiri merasa serba salah tentang bagaimana hendak menyelesaikan masaalah yang dihadapinya itu. Tidak lama kemudian Saiyidina Umar Ibnul Khattab pun mengirim jawapannya melalui sepucuk surat. Tetapi apakala surat itu sampai ke tangan Amru Bin Al As gabnor Mesir itu didapatinya surat itu tidak ditujukan kepadanya bahkan kepada Sungai Nil itu sendiri. Sebelum Amru Bin Al As mencampakkan surat itu ke dalam Sungai Nil yang hampir kekeringan itu ia sempat juga membaca isi surat itu yang berbunyui kira-kira demikian:
"Surat ini dikirimkan kepada Sungai Nil oleh Umar, hamba Allah dan Amirul Mukminin.
"Wahai Sungai Nil! Jika air yang mengalir di sungai ini adalah atas kuasamu maka ketahuilah bahawa kami tidak memerlukan kau, tetapi jika ianya mengalir di atas kekuasaan Allah swt maka kepadaNya kami pohonkan agar mengalirkan air di sungai ini."
Demi setelah surat itu Gabenor Amru mencampakkan ke dalam sungai tersebut, adalah diriwayatkan bahawa sungai itu pun dipenuhi semula oleh air sedalam empat-puluh lapan kaki pada malam itu. Semenjak hari itu lenyaplah amalan-amalan jahiliah yang lama lagi karut itu di kalangan penduduk Mesir.
Semasa Amru Bin Al As menjadi gabenor Mesir, suatu peristiwa ganjil telah berlaku. Air sungai Nil dikatakan akan berhenti mengalir beberapa bulan lagi dan penduduk-penduduk Mesir bercadang untuk melakukan upacara jahiliah dengan mengorbankan seorang anak gadis yang cantik ke dalam sungai itu. Mereka mendesak Amru Bin Al As supaya melakukan upacara itu. Beliau yang sebagai pemerintah Islam dan tokoh sahabat Rasulullah SAW tentu sekali berkeras tidak mahu melakukan sebab terang sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang suci.
Tidak berapa lama kemudian air sungai Nil benar-benar mulai kering. Oleh kerana pertanian di negeri Mesir itu bergantung kepada air sungai tersebut, penduduk-penduduk pun menjadi semakin cemas. Ada sebahagian mereka terpaksa berpindah ke kawasan tanah lain yang lebih subur.
Keadaan ini akhirnya memaksa Amru Bin Al As menulis surat kepada Khalifah Umar Ibnul Khattab di Madinah untuk meminta pandangannya. Amru Bin Al As sendiri merasa serba salah tentang bagaimana hendak menyelesaikan masaalah yang dihadapinya itu. Tidak lama kemudian Saiyidina Umar Ibnul Khattab pun mengirim jawapannya melalui sepucuk surat. Tetapi apakala surat itu sampai ke tangan Amru Bin Al As gabnor Mesir itu didapatinya surat itu tidak ditujukan kepadanya bahkan kepada Sungai Nil itu sendiri. Sebelum Amru Bin Al As mencampakkan surat itu ke dalam Sungai Nil yang hampir kekeringan itu ia sempat juga membaca isi surat itu yang berbunyui kira-kira demikian:
"Surat ini dikirimkan kepada Sungai Nil oleh Umar, hamba Allah dan Amirul Mukminin.
"Wahai Sungai Nil! Jika air yang mengalir di sungai ini adalah atas kuasamu maka ketahuilah bahawa kami tidak memerlukan kau, tetapi jika ianya mengalir di atas kekuasaan Allah swt maka kepadaNya kami pohonkan agar mengalirkan air di sungai ini."
Demi setelah surat itu Gabenor Amru mencampakkan ke dalam sungai tersebut, adalah diriwayatkan bahawa sungai itu pun dipenuhi semula oleh air sedalam empat-puluh lapan kaki pada malam itu. Semenjak hari itu lenyaplah amalan-amalan jahiliah yang lama lagi karut itu di kalangan penduduk Mesir.
Thursday, December 23, 2004
SOALAN DAN JAWABAN DALAM SATU AYAT
Amirul Mukminin Khalifah Al-Mahdi ingin menambah isteri lagi, tapi selalu dihalangi oleh isterinya yang bernama Khaizuran.
"Engkau tidak boleh kahwin lagi." kata puan Khaizuran dengan tegas.
Walau bagaimanapun, Khalifah A-Mahdi bertegas juga bahawa beliau tetap ingin berkahwin lagi sehingga terjadilah pertengkaran dan perbalahan.
"Engkau tidak ada hak untuk menghalangku dari kahwin lagi, kerana Allah sendiri tidak menghalang." kata Al-Mahdi.
"Kalau Amirul Mukminin tetap berkeras, marilah kita bertahkim kepada orang alim sebelum engkau kahwin lagi." kata Khaizuran.
"Boleh, tunjuk siapa yang engkau suka."
"Terpulang kepada Amiraul Mukminin saja." jawab Khaizuran.
"Bagaimana kalau Sufyan Ath-Thauri?" tanya Al-Mahdi.
"Saya setuju." jawab Khaizuran.
Pergilah Khalifah Al-Mahdi bersama Puan Khaizuran kepada Sufyan Ath-Thauri seorang ulama Fekah yang masyhur dan wara' ketika itu.
"Wahai Syeikh! Saya ingin berkahwin lagi, tapi puan Khaizuran menghalangnya. Dia berkata bahawa aku tidak boleh berkahwin lagi, padahal Allah tidak melarang." kata Al-Mahdi sambil membaca firman Allah yang ertinya, "Maka kahwinilah wanita-wanita yang kamu sukai dua, tiga atau empat..." (An-Nisa: 4)".
Setelah membaca potongan ayat tersebut, Al-Mahdi diam. Kemudian Sufyan berkata, "Aku minta agar Amirul Mukminin meneruskan ayat tersebut."
Al-Mahdi pun meneruskan ayat yang dibacanya yang ertinya: "Kemudian jika kamu tidak adil, maka kahwinilah seorang sahaja..."
"Nah engkau tidak adil" kata Sufyan Ath-Thauri.
Mendengarn itu, kembanglah telinga puan Khaizuran dan Khalifah Al-Mahdi merasa puas dengan jawapan yang diterimanya. Beliau telah memberi hadiah kepada Sufyan sebanyak sepuluh ribu dirham, tapi ditolaknya.
"Engkau tidak boleh kahwin lagi." kata puan Khaizuran dengan tegas.
Walau bagaimanapun, Khalifah A-Mahdi bertegas juga bahawa beliau tetap ingin berkahwin lagi sehingga terjadilah pertengkaran dan perbalahan.
"Engkau tidak ada hak untuk menghalangku dari kahwin lagi, kerana Allah sendiri tidak menghalang." kata Al-Mahdi.
"Kalau Amirul Mukminin tetap berkeras, marilah kita bertahkim kepada orang alim sebelum engkau kahwin lagi." kata Khaizuran.
"Boleh, tunjuk siapa yang engkau suka."
"Terpulang kepada Amiraul Mukminin saja." jawab Khaizuran.
"Bagaimana kalau Sufyan Ath-Thauri?" tanya Al-Mahdi.
"Saya setuju." jawab Khaizuran.
Pergilah Khalifah Al-Mahdi bersama Puan Khaizuran kepada Sufyan Ath-Thauri seorang ulama Fekah yang masyhur dan wara' ketika itu.
"Wahai Syeikh! Saya ingin berkahwin lagi, tapi puan Khaizuran menghalangnya. Dia berkata bahawa aku tidak boleh berkahwin lagi, padahal Allah tidak melarang." kata Al-Mahdi sambil membaca firman Allah yang ertinya, "Maka kahwinilah wanita-wanita yang kamu sukai dua, tiga atau empat..." (An-Nisa: 4)".
Setelah membaca potongan ayat tersebut, Al-Mahdi diam. Kemudian Sufyan berkata, "Aku minta agar Amirul Mukminin meneruskan ayat tersebut."
Al-Mahdi pun meneruskan ayat yang dibacanya yang ertinya: "Kemudian jika kamu tidak adil, maka kahwinilah seorang sahaja..."
"Nah engkau tidak adil" kata Sufyan Ath-Thauri.
Mendengarn itu, kembanglah telinga puan Khaizuran dan Khalifah Al-Mahdi merasa puas dengan jawapan yang diterimanya. Beliau telah memberi hadiah kepada Sufyan sebanyak sepuluh ribu dirham, tapi ditolaknya.
GARA-GARA PELAWAK, KHALIFAH PUTUS SOLAT
Ibnu Maryam adalah seorang yang sering membuat Khalifah Harun Ar-Rasyid tertawa kerana kelucuannya. Dia banyak menguasai cerita-cerita tentang bumi Hijaz dan lain-lain tempat di negeri Arab. Khalifah Harun telah mengizinkan Ibnu Maryam untuk tinggal di istananya dan bergaul dengan kaum keluarganya.
Suatu pagi, Khalifah Harun telah mengejutkan Ibnu Maryam untuk solat Subuh. Ibnu Maryam pun bangun dan terus berwudhu, sedang Khalifah Harun telah memulakan solat bersama orang lainnya. Apabila Ibnu Maryam sampai ke tempat solat, dia mendapati Khalifah Harun tengah membaca surah Yasin dan sampai pada ayat 22 yang ertinya: "Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku...?"
Ibnu Maryam yang belum bertakbiratul ihram itu tiba-tiba berkata: "La idri, wallah (Aku tidak tahu, demi Allah)."
Mendengar itu, tertawalah Khalifah Harun Ar-Rasyid dan memutuskan solatnya dan melihat kepada Ibnu Maryam. "Celaka engkau wahai Ibnu Maryam! Engkau telah membuat solat dan bacaan Al-Quran terputus. Kalau kau punya idea pun, cakaplah pada masa lain." kata Khalifah Harun sambil menahan tawanya.
Suatu pagi, Khalifah Harun telah mengejutkan Ibnu Maryam untuk solat Subuh. Ibnu Maryam pun bangun dan terus berwudhu, sedang Khalifah Harun telah memulakan solat bersama orang lainnya. Apabila Ibnu Maryam sampai ke tempat solat, dia mendapati Khalifah Harun tengah membaca surah Yasin dan sampai pada ayat 22 yang ertinya: "Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku...?"
Ibnu Maryam yang belum bertakbiratul ihram itu tiba-tiba berkata: "La idri, wallah (Aku tidak tahu, demi Allah)."
Mendengar itu, tertawalah Khalifah Harun Ar-Rasyid dan memutuskan solatnya dan melihat kepada Ibnu Maryam. "Celaka engkau wahai Ibnu Maryam! Engkau telah membuat solat dan bacaan Al-Quran terputus. Kalau kau punya idea pun, cakaplah pada masa lain." kata Khalifah Harun sambil menahan tawanya.
Wednesday, August 11, 2004
DO'A UNTUK ORANG TUA
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan
perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,
ampunan-Mu serta rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan
perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,
ampunan-Mu serta rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.